Teknik Pengembangan Kepribadian Buddhis Bagi Anak Didik
TEKNIK PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN BUDDHIS
BAGI ANAK DIDIK[1]
Oleh: Partono Nyanasuryanadi
A. Pendahuluan
Sasaran pembangunan dan pendidikan pada dasarnya adalah manusia (Sivaraksa, 2001:50). Pendidikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan bermaksud membantu anak didik menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaanya. Pendidikan yang tidak berorientasi pada pemahaman yang jelas mengenai manusia dengan berbagai potensi unik dan kelemahanya akan menciptakan pembentukan karakter yang tidak membangun.
Tugas mendidik hanya bisa dilakukan dengan benar dan tepat, jika pendidik memiliki gambaran yang jelas tentang manusia. Manusia mempunyai ciri khas yang secara prinsip berbeda dengan hewan. Ciri khas manusia yang membedakan dari hewan terbentuk dari kumpulan terpadu (integrated) dari apa yang disebut sifat hakikat manusia (Tirtarahardja, 2005:1). Pemahaman pendidik terhadap sifat hakikat manusia akan membentuk peta tentang tentang karakter manusia. Peta akan digunakan sebagai landasan atau acuan dalam menyusun strategi, metode, teknik’ serta memilih pendekatan dan orientasi dalam merancang dan melaksanakan komunikasi transaksional di dalam interaksi edukatif. Penggunaan peta acuan secara optimal akan membentengi pendidik untuk tidak mudah terkecoh ke dalam bentuk transaksional yang patologis dan berakibat merugikan subjek didik.
Kepribadian anak didik sebagai subjek pendidikan bila ditangani secara salah tidak akan berkembang secara optimal tetapi justru berdampak pada hilangnya potensi-potensi yang dimiliki. Keraguan mengenai pendidikan khususnya pendidikan sekolah sebagai faktor pendukung perkembangan kepribadian bermunculan di masyarakat akademik. Pakar pendidikan Ivan Illich dalam (Sindhunata, 2000:9) secara tegas menyatakan keraguanya mengenai sistem pendidikan sekolah karena melihat output yang dihasilkan tidak mampu untuk hidup secara nyata dalam masyarakat karena perkembangan kepribadianya yang tidak optimal.
Pakar pendidikan dari Prancis Roger Fauroux dalam penelitianya menyatakan bahwa guru sebagai bagian tak terpisahkan dalam pendidikan memberikan pengaruh yang besar terhadap kemunduran pendidikan (Fauroux, 1997:3). Guru kebanyakan mempertahankan konservatisme pendidikan. Sejalan dengan penelitian Fauroux guru di Indonesia pada umumnya adalah “pegawai pendidikan” yang berorientasi pada kepentingan ekonomi sehingga visi dan misi pendidikan akan banyak dikalahkan oleh faktor pemenuhan kebutuhan hidup. Guru sebagai pegawai pendidikan tidak memiliki mental pembelajar sehingga sekolah mempunyai kewajiban untuk melakukan empowerment terhadap guru yang ada.
Melihat realita historis, sistem pengembangan kepribadian melalui pendidikan mengalami perubahan yang radikal. Perkembangan kepribadian tidak akan optimal hanya dengan “pengajaran” dari sistem klasik tetapi harus sampai pada taraf “pengalaman”. Untuk megetahui sesuatu berarti masuk dan berpartisipasi di dalamnya, mengakrabkan diri denganya sehingga mampu mengalami sebagai dasar dari perkembangan pengetahuan (Boehme, 2000:38). Konsep ilmu pendidikan klasik yang masih banyak berkembang di Indonesia bertolak pada pengandaian konsep pedagogi deduktif, guru bertugas mengantarkan pengetahuan untuk siswa (Sindhunata, 2000:11-12). Sistem transfer pengetahuan yang dilakukan pada umumnya tidak memperhatikan karakteristik dan watak anak didik.
Perkembangan kepribadian siswa akan optimal jika guru bukan hanya sebagai pengantar pengetahuan tetapi bertugas merangsang perkembangan bakat siswa, membangkitkan kemampuan mengerti, menilai, menyimpulkan, mengembangkan fantasi, empati serta berbagai potensi positif yang ada.
Solusi mengenai permasalahan sistem dan teknik perkembangan kepribadian anak didik agar mencapai tahap optimal dapat dilakukan dari berbagai sisi dan disiplin ilmu. Kebijaksanaan klasik dari Buddhisme merupakan salah satu solusi yang banyak digunakan sebagai pijakan oleh para ahli dalam menelaah masalah perkembangan kepribadian dan kesehatan psikis (Nissanka, 2002:iii). Padmal Silva dalam bukunya berjudul “Buddhist psychology: A review of theory and practice” menyatakan bahwa perkembangan kepribadian dan berbagai hal yang berkaitan dengan psikologi banyak dibahas dalam Buddhisme. Berbagai tema kajian ilmu psikologi seperti motif, kognisi, persepsi, kesadaran, perkembangan kepribadian serta berbagai teknik meditasi pendukung perkembangan kepribadian dibahas secara tuntas (Buddhist psychological notions including: basic drives that motivate behavior, perception and cognition, consciousness, personal development and enlightenment, meditation, and behavior change) (Silva, 1990:236). Perkembangan kepribadian dilakukan melalui berbagai cara dan bermuara pada meditasi (bhavana) sebagai teknik yang unik karena tidak terdapat dalam sistem pendidikan modern. Meditasi sebagai jalan praktis menuju kebijaksanaan sebagai puncak dari perkembangan kepribadian merupakan warisan gagasan Buddha yang memperhatikan perbedaan metode pada karakter anak didik yang berbeda.
Makalah ini akan menjelaskan mengenai teknik pengembangan kepribadian dari perspektif Buddhis. Metode kajian yang digunakan lebih condong pada kajian pustaka dengan perpaduan pendekatan analisis wacana, fenomenologi serta puggala pannati.
B. Konsep Kepribadian Dalam Buddhisme.
1. Hakikat Pembentuk Kepribadian
Kepribadian di dalam Buddhisme cenderung bersifat impersonal dalam arti ditelaah sampai sisi terdalam. Filsafat Buddha banyak berbicara dalam tataran hakikat (ontologi) sehingga watak-watak atau tingkah laku manusia sebagai cerminan kepribadiannya dianalisis sampai detail. Analisa yang mendalam bermuara pada konsep bahwa kepribadian yang dimaksud dalam agama Buddha berasal dari suatu agregat tanpa entitas tunggal dan dapat berdiri sendiri. Kepribadian cenderung berasal dari kompleksitas hukum saling-bergantungan (interaksi interdependensi) antara indera dan obyek. Untuk memahami kepribadian maka telaah mengenai hakikat manusia yang mendalam dan rumit dari Buddhisme dapat digunakan.
Buddhisme memandang apa yang disebut manusia adalah lima agregat kehidupan (panca khandha) yang terdiri dari unsur jasmani (rūpa), perasaan (vedana), pencerapan (sañña), bentuk-bentuk pikiran (sankhara) dan kesadaran (viññana). Keempat agregat selain jasmani merupakan unsur batin (nāma). Jasmani dan batin eksis dalam bentuk unit-unit materi dan mental yang terdiri dari banyak unsur atau elemen, senantiasa bergerak, interdependen dan berinteraksi satu sama lain tanpa substansi inti pribadi yang berdiri sendiri (Wijaya Mukti 2003:241).
Unit jasmani terdiri dari unsur fisik yang mempunyai bentuk dan merupakan sesuatu yang dapat berubah, bercerai, padam oleh kondisi yang berlawanan seperti panas dan dingin. Ada 28 unsur materi yang terdiri dari 4 unsur primer (maha bhuta rūpa) dan 24 unsur sekunder yang tergantung pada unsur primer (upadaya rūpa). Unsur primer meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) unsur padat/tanah (pathavi) berfungsi sebagai penyokong dan pemberi sifat keras lunak; (2) unsur cair/air (apo) berfungsi sebagai pengikat dan pemberi sifat kohesi arus; (3) unsur panas/api (tejo) berfungsi sebagai pematurasi dan pemberi sifat panas dingin; (4) unsur gerak/angin (vayo) berfungsi dalam pergerakan dan pemberi sifat ekspansi kontraksi (Dhs.585, 597; M.III.282; S.II.66; Vin.I.13).
Unsur sekunder terdiri dari 24 terbagi dalam dua kelompok yaitu 14 kondisi langsung dan 10 kondisi tidak langsung. Empat belas kondisi langsung meliputi 5 unsur elemen sensitif atau reseptor, 4 unsur stimulasi atau stimulan, 2 unsur seks, 1 unsur hati sanubari (hadaya), 1 unsur kehidupan vitalitas (jivita), 1 unsur nutrisi (āhāra). Lima unsur elemen sensitif atau reseptor terdiri dari (1) unsur landasan mata (cakkhu pasāda), (2) landasan telinga (sota pasāda), (3) landasan hidung (ghāna pasāda), (4) landasan lidah (jivhā pasāda), (5) landasan jasmani (kāya pasāda). Empat unsur stimulasi atau stimulan terdiri dari (1) obyek bentuk (vaņņa), (2) obyek suara (sadda), (3) obyek bau (gandha) (4) obyek rasa (rasa). Dua unsur seks terdiri dari unsur jantan (pumbhāva) dan betina (itthi bāva) (D.I.245; Dhs.585; 597;M.III.18; S.IV.126 ).
Sepuluh kondisi tidak langsung terdiri dari 1 unsur ruang (ākāsa atau pariccheda), 2 unsur terdiri dari isyarat jasmani (kāya viññatti) dan kata-kata (vaci viññatti), 3 unsur penyesuaian terdiri dari gaya ringan (lahutā), gaya menurut (madutā), dan gaya penyesuaian diri (kammaññatā); dan 4 unsur fase perkembangan yang terdiri dari awal perkembangan (upacaya), perkembangan lanjut (santati), kelapukan (jaratā), dan kelenyapan (aniccatā). Pembangkit utama yang menimbulkan eksistensi pada semua unit adalah karma masa lalu (kamma), pikiran (citta), energi (utu) dan nutrisi (ahara) (Dhs.585).
Unsur penunjang kehidupan berupa makanan yang memiliki peran untuk mempertahankan atau menunjang kelangsungan hidup dan membantu memperbaharui keberadaan manusia terdiri dari makanan materi (kavalinkahara), kontak keenam indra/kesan-kesan (phassahara), kehendak pikiran (manosancetanahara), kesadaran (viññanahara). Keempat jenis makanan ini menyatakan apa saja yang menghasilkan suatu akibat (D.III.228; Dhs.71-73; M.I.48, 261; Vism.341).
Unit jasmani dan unsurnya dikenal sesuai dengan struktur dan fungsinya dengan tugas berbeda-beda. Penguraian unsur dalam Buddhisme mirip dengan ilmu anatomi dan histologi. Unsur-unsur mempunyai masa hidup tertentu yang relatif singkat. Semua bersyarat sebagai akibat dari suatu sebab dan mempunyai masa hidup tertentu atau tidak benar-benar permanen; dan ketika syarat pendukung padam, efeknya juga akan berhenti. Timbul dan lenyap atau lahir dan mati berkesinambungan setiap saat.
Batin dibedakan atas kesadaran (citta sama dengan viññana) dan corak batin (cetasika) yang terdiri dari agregat perasaan, pencerapan, dan bentuk pikiran. Pada unit batin berlaku rangkaian sebab akibat (paccaya). Setiap bentuk batin atau pikiran lahir setelah unit sebelumnya padam dan berkaitan dengan sejumlah komponen sebab akibatnya. Buddha menyatakan yat rūpam nissaya bergantung pada jasmani dan bentuk batin yang terjalin secara erat dan mengambil tempat pada materi (Sn.1036.1100).
Abhidhamma merupakan ajaran Buddha yang mengajarkan tipe kepribadian secara sempurna. Konsep atta atau diri dalam Abhidhamma merupakan sekumpulan proses impersonal yang muncul dan lenyap bukan merupakan sesuatu yang kekal. Diri adalah totalitas keseluruhan dari bagian-bagian jasmani yaitu pikiran, penginderaan, hawa nafsu, dan ingatan. Agama Buddha menguraikan sikap yang analistis terhadap manusia.
Penelitian mengenai kepribadian dalam Buddhisme adalah suatu rangkaian peristiwa yang pada dasarnya merupakan hubungan terus menerus antara keadaan-keadaan psikis dan obyek-obyek indera. Keadaan psikis manusia selalu berubah dalam setiap saat. Metode dasar yang dipakai Abhidhamma untuk meneliti perubahan yang sangat banyak dalam psikis adalah insight. Insight merupakan suatu rangkaian observasi teliti dan sistematik yang dilakukan seseorang terhadap pengalamannya sendiri.
Prinsip-prinsip mengenai tipe-tipe kepribadian menyatakan bahwa faktor-faktor psikis muncul dalam kekuatan yang berbeda-beda. Faktor-faktor tertentu menentukan kepribadian, motif-motif dan tingkah laku manusia. Keunikan pola faktor-faktor psikis (batin) setiap individu menimbulkan perbedaan individual dalam kepribadian. Strategi yang dianjurkan dalam Abhidhama untuk mencapai keadaan-keadaan sehat bukan berupa usaha langsung mencari atau menunjukkan sikap tidak suka terhadap keadaan-keadaan yang tidak sehat. Pendekatan yang dipakai untuk mengetahui kepribadian manusia adalah meditasi. Kepribadian menurut Buddha dijelaskan dalam Abhidhamma mulai dengan pernyataan ajaran Abhidhamma tentang karma yaitu segala sesuatu perbuatan didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dan dihasilkan oleh pikiran. Apabila seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran jahat maka penderitaan akan mengikutinya sama seperti roda pedati yang mengikuti kaki lembu yang menariknya. Apabila seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran yang murni maka kebahagiaan akan mengikutinya sama seperti bayang-bayang yang tidak pernah meninggalkannya (Dh.1-2).
Buddha menjelaskan bahwa kehendak untuk berbuat adalah yang dinamakan karma. Sesudah berkehendak orang akan berbuat dengan badan jasmani, perkataan, dan perbuatan (S.III.415). Abhidhamma membedakan antara faktor-faktor psikisyang disebut kusula yaitu murni, baik, atau sehat dan faktor-faktor psikis(nama) yang disebut akusala yaitu tidak murni, tidak baik, atau tidak sehat. Kebanyakan faktor psikisperseptual, kognitif, dan afektif cocok untuk dimasukkan dalam kategori sehat atau kategori tidak sehat. Penilaian tentang sehat atau tidak sehat dicapai secara empiris berdasarkan.
Pengalaman kolektif sejumlah besar pertapa (samana) pada masa kehidupan sebelum Buddha Gautama. Kriteria sehat atau tidak sehat adalah apakah suatu faktor batin khusus tertentu mempermudah atau mengganggu usaha untuk mengheningkan batin dalam meditasi. Faktor-faktor yang mengganggu meditasi disebut tidak sehat sedangkan faktor-faktor yang membantu meditasi disebut sehat.
Menurut Abhidhamma (Vbh.391) bahwa selain faktor-faktor sehat atau faktor-faktor tidak sehat, terdapat tujuh sifat netral yang ada dalam setiap keadaan batin. Tujuh sifat netral tersebut terdiri dari (1) apersepsi (phassa) adalah kesadaran tentang suatu obyek; (2) persepsi (sanna) adalah pengenalan pertama bahwa kesadaran tentang suatu obyek melalui salah satu indera; (3) kehendak (cetana) yaitu reaksi terkondisi yang menyertai persepsi pertama tentang suatu obyek; (4) perasaan (vedana) yakni pengindraan yang dibangkitkan oleh obyek; (5) pemusatan pada satu titik (ekaggata) yakni pemusatan kesadaran; (6) perhatian spontan (manasikara) yakni pengarahan perhatian yang tak disengaja karena daya tarik dari obyek; (7) energi psikis (jivitindriya), yang memberi vitalitas dan mempersatukan keenam faktor lainnya. Ketujuh sifat netral tersebut merupakan sejenis kerangka dasar kesadaran yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sehat (kusala) dan tidak sehat (akusala). Kerangka kerja dari kombinasi secara khusus faktor-faktor tersebut adalah berbeda-beda dari waktu ke waktu.
2. Faktor-faktor Kepribadian Tidak sehat
Faktor kepribadian tidak sehat yang sentral berupa kebodohan batin yang bersifat perseptual. Kebodohan batin (moha) didefinisikan sebagai kegelapan psikis(batin) yang menyebabkan persepsi salah tentang obyek kesadaran. Abhidhamma melihat kebodohan sebagai ketidaktahuan dasar yang merupakan sumber utama penderitaan manusia. Persepsi salah tentang sifat sebenarnya dari segala sesuatu adalah ketidakmampuan melihat dengan jelas. Kebodohan batin menyebabkan “pandangan yang salah” atau pemahaman yang tidak tepat (aditthi). Pandangan yang salah antara lain berarti menempatkan sesuatu dalam kategori yang salah. Contoh bekerjanya faktor-faktor tidak sehat ini tampak jelas pada kasus penderita paranoid dalam arti penderita paranoid mempersepsikan orang lain sebagai suatu ancaman padahal sesungguhnya tidak nyata.
Kebodohan batin (moha) merupakan ketidaktahuan dasar atau sumber utama penderitaan manusia sebagai kegelapan psikisyang menyebabkan persepsi salah mengenai obyek kesadaran. Buddha menyatakan bahwa apabila psikis(nama) seseorang dikuasai oleh pandangan yang salah, apa saja yang mungkin dilakukan atau dicita-citakannya hanya akan mengarahkannya pada suatu keadaan yang tidak diinginkan, tidak menyenangkan, tidak mengenakkan, kesengsaraan dan penderitaan (A.I.23).
Persepsi salah mengenai sifat moha adalah ketidakmampuan melihat dengan jelas, tanpa prasangka atau pandangan-pandangan yang merupakan inti dari semua keadaan psikisyang tidak sehat. Pandangan-pandangan salah yang dinyatakan secara eksplisit oleh Buddha adalah salah satu asumsi umum yang terdapat dalam banyak teori kepribadian Barat. Hal ini diungkapkan secara tepat bahwa terdapat diri atau ego yang bersifat tetap. Pandangan dalam Abhidhamma tidak ada diri sebagai diri melainkan suatu proses gejala-gejala fisik dan psikisyang timbul dan lenyap secara terus-menerus (Nyanatiloka 1972:25).
Faktor keragu-raguan (vicikiccha) mencerminkan ketidakmampuan untuk menentukan atau membuat keputusan yang tepat. Apabila keragu-raguan menguasai psikisseseorang maka akan berada dalam kebimbangan dan pada akhirnya dapat menjadi tidak berdaya. Faktor-faktor kognitif lain yang tidak sehat adalah sikap tak tahu malu (ahirika) dan tanpa belas kasihan (anottapa), sikap-sikap yang menyebabkan seseorang tidak menghiraukan pendapat pihak lain, dan norma-norma yang tertanam dalam dirinya sendiri. Apabila faktor keragu-raguan ini menjadi kuat dalam diri individu maka akan melakukan perbuatan jahat tanpa penyesalan dan dengan demikian cenderung berkelakuan buruk. Faktor keragu-raguan ini merupakan prasyarat bagi keadaan psikisyang mendasari setiap perbuatan jahat.
Faktor kepribadian tidak sehat lainnya yang dapat menimbulkan kejahatan adalah egoisme (mana). Sikap mementingkan diri sendiri menyebabkan orang melihat obyek semata-mata sebagai pemenuhan nafsu atau kebutuhannya sendiri. Bergabungnya ketiga faktor kepribadian yang tidak sehat (sikap tak tahu malu, sikap tanpa belas kasihan, egoisme) dalam suatu keadaan menjadi dasar bagi kejahatan yang dilakukan manusia.
Faktor-faktor kepribadian tidak sehat yang bersifat afektif berupa keresahan (uddhacca) dan kekhawatiran (kukkucca) adalah keadaan bingung, penyesalan, linglung. Faktor-faktor ini menciptakan kecemasan yang merupakan ciri utama dari kebanyakan kekalutan jiwa. Serangkaian faktor kepribadian yang tidak sehat lainnya berhubungan dengan ketergantungan berupa ketamakan (lobha), kekikiran (macchariya), dan iri hati (issa) merupakan aneka bentuk keterikatan pada suatu obyek sedangkan kebencian (dosa) merupakan sisi negatifnya. Ketamakan dan kebencian terdapat dalam semua keadaan psikisyang negatif dan selalu bergabung dengan kebodohan batin. Dua faktor kepribadian terakhir yang tidak sehat adalah kemalasan (thina) dan kelelahan (middha) (Hall dan Lindzey 1995:241). Hal ini membuat keadaan psikismenjadi kaku dan tidak fleksibel. Apabila faktor-faktor kepribadian tidak sehat ini menjadi kuat maka psikisdan jasmani cenderung menjadi lamban.
3. Faktor-Faktor Kepribadian Sehat
Setiap faktor kepribadian yang tidak sehat berlawanan dengan faktor kepribadian yang sehat. Faktor-faktor kepribadian bersifat sehat atau tidak sehat, tidak ada yang berada di tengah. Cara untuk mencapai keadaan kepribadian yang sehat dalam Abhidhamma adalah menggantikan faktor-faktor kepribadian yang tidak sehat dengan kutub sebaliknya. Prinsip yang berlaku mirip dengan hambatan timbal balik (reciprocal inhibition) yang digunakan dalam systematic desentization, pengendoran (relaxation) dibandingkan secara fisiologis dengan ketegangan. Setiap faktor kepribadian yang negatif terdapat faktor positif penangkalnya. Apabila suatu faktor kepribadian sehat tertentu ada dalam suatu keadaan jiwa, maka faktor kepribadian tidak sehat yang ditekannya tidak akan dapat muncul.
Faktor kepribadian sehat yang terpenting adalah pemahaman yang benar tentang insight (panna) sebagai lawan dari moha. Insight adalah persepsi yang jelas tentang obyek sebagaimana adanya menekan delusi sebagai faktor tidak sehat yang fundamental. Kedua faktor kepribadian berlawanan tidak mungkin hadir bersama dalam satu keadaan batin. Ketika terdapat kejelasan maka tidak terdapat moha, sebaliknya jika moha muncul maka tidak terdapat kejelasan. Sikap mindfullness (sati) adalah pemahaman yang jelas dan bersifat kontinu tentang obyek; pasangan hakiki dari pemahaman yang benar membuat psikisseseorang selalu tetap terang. Pandangan terang (vipassana) dan sikap sati adalah faktor-faktor kepribadian sehat yang utama. Apabila kedua hal ini muncul dalam suatu keadaan batin maka faktor-faktor kepribadian sehat lainnya akan muncul. Kehadiran kedua faktor kepribadian sehat yang telah dijelaskan akan cukup untuk menekan semua faktor kepribadian tidak sehat (Hall dan Lindzey 1995:241).
Sejumlah faktor kepribadian sehat menuntut syarat-syarat tertentu agar dapat muncul. Sikap rendah hati (hiri) yang akan menghambat sikap tak tahu malu dan sikap penuh hati-hati (ottappa) merupakan lawan dari sikap tanpa penyesalan. Sikap rendah hati dan sikap penuh hati-hati selalu berhubungan dengan kejujuran (cittujjukata) yakni sikap menilai secara tepat. Faktor kepribadian sehat yang lain adalah keyakinan (saddha) yakni kepastian yang didasarkan pada persepsi yang tepat. Gabungan faktor kepribadian sehat yakni sikap rendah hati, sikap penuh hati-hati, kejujuran, dan keyakinan akan menghasilkan perbuatan kebajikan diukur dari norma pribadi maupun norma masyarakat.
Jasmani dan batin dalam Abhidhamma dilihat sebagai saling berhubungan. Karena setiap faktor mempengaruhi baik jasmani maupun batin, maka gabungan faktor kepribadian sehat yang lain dan merupakan satu-satunya gabungan faktor yang secara eksplisit dilukiskan memiliki akibat-akibat fisik dan psikologis adalah kegembiraan (ahuta), fleksibilitas (muduta), kesanggupan menyesuaikan diri (kammannata), dan kecakapan (pagunnata). Apabila gabungan faktor kepribadian sehat ini muncul maka akan berpikir dan bertindak dengan leluasa dan mudah serta mewujudkan ketrampilan-ketrampilan secara optimal. Hal ini menekan kemalasan dan kelelahan tidak sehat yang menguasai psikisdalam keadaan-keadaan seperti depresi. Berdasarkan psikodinamik Abhidhamma faktor-faktor kepribadian yang sehat dan tidak sehat saling menghambat dan kehadiran faktor yang satu menekan faktor lawannya.
Karma menentukan keadaan sehat atau keadaan tidak sehat. Suatu kombinasi faktor kepribadian sehat dan tidak sehat merupakan hasil dari pengaruh biologis dan pengaruh situasional serta pengaruh dari berbagai keadaan batin sebelumnya. Setiap keadaan batin tertentu terbentuk dengan kekuatan yang berbeda. Faktor kepribadian yang paling kuat menentukan individu mengalami dan bertindak dalam suatu momen tertentu. Herarki kekuatan dari faktor-faktor yang mendominasi dari beberapa faktor menentukan keadaan spesifik akan menjadi negatif atau positif. Faktor tertentu atau sekumpulan faktor yang seringkali muncul dalam keadaan batin akan membentuk sifat kepribadian. Keseluruhan faktor-faktor batin yang sudah menjadi kebiasaan menentukan sifat-sifat kepribadian.
4. Tipe-Tipe Kepribadian
Keterkaitan antara kepribadian manusia dengan tingkah laku keagamaan telah diatur dengan sistem kerja untuk menyelaraskan tingkah laku. Secara umum manusia terdorong untuk melakukan sesuatu yang baik, benar, dan indah, namun naluri mendorong manusia untuk segera memenuhi kebutuhannya yang bertentangan. Buddhism memandang unsur-unsur kepribadian sebagai keseluruhan dari bagian-bagian jasmani yaitu unsur jasmani, unsur perasaan, unsur pencerapan, unsur bentuk-bentuk pikiran dan kasadaran (Nama dan Rūpa) (S.III.47).
Tipe-tipe kepribadian disebut watak (carita) yang digolongkan berdasarkan sifat atas keadaan batin yaitu: (a) raga carita, adalah kecenderungan melekati terhadap obyek menyenangkan, (b) dosa carita adalah kecenderungan pemarah dan kebencian yang tanpa alasan, (c) moha carita adalah watak ketidaktahuan terhadap segala sesuatu termasuk harta dunia, (d) vitakka carita adalah watak kekhawatiran atau pikiran yang tidak terkendalikan, (e) saddha carita adalah watak yang mudah percaya, (f) budhi carita adalah watak kecerdasan (A.I.146; D.III.111; Sn.665; Vism. 101).
Menurut Buddhisme bahwa usaha untuk menyelaraskan tingkah laku manusia dengan berbagai wataknya agar tercapai ketentraman batin adalah meditasi. Tujuan utama dalam latihan meditasi yang dilakukan ialah untuk mengalahkan gejala-gejala psikologis yang dominan dengan menjadikan keseimbangan batin dalam diri. Setiap manusia mempunyai sifat yang terdiri dari campuran semua sifat-sifat tersebut yaitu sifat atau watak yang sering muncul menjadi kepribadian.
C. Teknik Pengembangan Kepribadian Menurut Buddhisme
Pada hakekatnya manusia berpotensi untuk menentukan dirinya sendiri mencapai kemajuan bagi perkembangan dirinya. Buddha menjelaskan diri sendiri merupakan penyebab dari segala perbuatan yang dilakukan, tidak ada orang yang dapat melenyapkan perbuatan buruk yang dilakukan oleh orang lain. Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri seseorang menjadi tercemar. Oleh diri sendiri kejahatan dihindarkan, oleh diri sendiri seseorang menjadi suci. Kesucian dan kekotoran tergantung pada diri sendiri. Tidak seorangpun yang dapat membuat suci orang lain (Dh.165).
Individu bertanggungjawab atas sesuatu yang dilakukan, individu mempunyai kebebasan untuk menggunakan kehendaknya, dan mengembangkan pengetahuannya bahkan sampai mencapai tingkat kesempurnaan oleh dirinya sendiri serta semua orang mempunyai kemampuan untuk menjadi Berkembang (Narada 1998:11). Kemajuan bagi perkembangan diri individu sangat tergantung oleh usaha dan upaya individu sedangkan Buddha hanyalah petunjuk jalan.
Kepribadian yang sehat dapat dikembangkan dengan teknik yang disebut dengan pengembangan meditasi. Penjelasan tentang meditasi seperti yang diungkapkan dalam naskah-naskah awal Buddhis berdasarkan pada metode yang digunakan oleh Buddha sendiri dalam mencapai pencerahan atau terbentuknya kepribadian sehat sempurna.
Kata "meditasi" sebenarnya tidak persis sama dengan istilah Buddhis "bhavana" yang secara harfiah berarti "pengembangan" atau "pembuda-yaan," maksudnya pengembangan batin, pembudayaan batin, atau "membuat batin menjadi" (Dhs.261; D.III.219). Meditasi adalah usaha untuk membangun ketenangan, pikiran yang terkonsentrasi yang bisa melihat dengan jelas sifat sebenarnya dari semua hal yang bersifat fenomena dan merealisasi keadaan yang ideal dari batin yang sehat.
Meditasi seperti yang diajarkan oleh Buddha terdiri dari dua jenis: konsentrasi (samatha atau samadhi), yaitu pemusatan atau penyatuan pikiran (cittekaggata), dan pandangan terang (vipassana) (Vbh.12, 19, 199; Vism.130). Samadhi atau konsentrasi berfungsi untuk menenangkan pikiran, dan karena alasan inilah kata samatha atau samadhi, dalam beberapa konteks, diterjemahkan sebagai ketenangan, keheningan atau kesunyian, menenangkan pikiran menunjukkan penyatuan atau "pemusatan" pikiran.
Meditasi yang digunakan untuk pengembangan kepribadian akan membuahkan hasil optimal jika disesuaikan dengan watak (carita) anak didik. Sistem pengembangan kepribadian melalui meditasi merupakan sistem yang langsung berhadapan dengan berbagai gejala individu dan lingkungan secara mendalam. Langkah pertama yang diambil bagi anak didik adalah memahami karakter atau wataknya dengan jalan mengobservasi berbagai gejala psikis dan tanggapan atau respon terhadap lingkungan.
1. Pengembangan Kepribadian Melalui Ketenangan (samatha).
Pendekatan melalui ketenangan dalam pengembangan kepribadian dilakukan dengan mengarahkan perhatian pada satu obyek tunggal secara terus-menerus sehingga timbul kesan dan pengalaman mendalam terhadap obyek. Obyek yang digunakan disesuaikan dengan watak (carita) anak didik sehingga akan mempermudah proses meditasi. Raga carita adalah watak yang menyukai berbagai bentuk keindahan, dosa carita mempunyai kecenderungan ketidaksukaan, moha carita mempunyai kecenderungan ketumpulan mental, vitakka carita adalah kecenderungan kekhawatiran, saddha carita mempunyai kecenderungan mudah percaya dan budhi carita memiliki kecenderungan kecerdasan (Vism.101).
Guru yang baik harus memahami karakter atau tipe kepribadian anak didik sehingga dapat memberikan pengarahan berupa obyek meditasi yang sesuai. Tipe kepribadian atau watak yang telah diketahui dengan sempurna merupakan pijakan awal yang baik bagi pelatihan pengembangan kepribadian melalui meditasi ketenangan.
2. Memahami Tipe Kepribadian
Buddhaghosa dalam Visudhimagga (Vism.101) serta komentar serta Sutta Nipata syair 544 (SnA.544) menjelaskan mengenai watak dan kecenderunganya. Untuk mempermudah pengenalan penulis akan menyajikan dalam bentuk tabel.
Tabel watak berdasarkan kecenderungan pola pikir
Watak (carita)
|
Faktor yang mendominasi (kecenderungan).
|
Raga carita
|
Cenderung ke arah keindahan, kecantikan, kagum melihat kebajikan kecil, mudah melupakan kesalahan orang lain, cerdik, sombong, berambisi besar, mementingkan diri sendiri.
|
Dosa carita
|
Melaksanakan sesuatu didominasi oleh ketidaksukaan, cenderung kearah suka marah, jengkel, iri hati, tidak senang melihat kesalahan orang lain walaupun kecil, tidak mau tahu terhadap kebajikan orang lain walaupun besar, suka bermusuhan, memandang rendah orang lain, suka memerintah dan mendikte orang lain.
|
Moha carita
|
Melaksanakan sesuatu dengan pandangan yang tidak tepat, cenderung kearah kelemahan batin, suka bingung, ragu-ragu, khawatir, menggantungkan diri pada orang lain, berpikir tidak tertata/sistematis, pemalas, pendirian tidak tetap.
|
Buddhi carita
|
Melaksanakan sesuatu secara hati-hati, cenderung memahami kerja hokum alam, senang bermeditasi, bersedia mendengarkan nasihat orang lain, mudah bergaul.
|
Vitakka carita
|
Melaksanakan sesuatu secara tergesa-gesa, cenderung gugup, menyerah dalam usaha, suka berteori, pikiranya selalau berkeliaran, tidak suka bekerja untuk kepentingan sosial.
|
Tabel Watak Berdasarkan Sikap Badan (Iriyapata) Yang Dominan
Watak (carita)
|
Sikab berjalan
|
Sikap berdiri
|
Sikap tidur
|
Raga carita dan saddha carita
|
Berjalan denagn hati-hati, menurunkan kaki secara perlahan, menapakkan kaki seperti ringan dan berpegas.
|
Berdiri dengan percaya diri dan anggun
|
Menata tempat tidur secara rapi, tidak tergesa-gesa, berbaring perlahan mengatur tangan dan kaki, bangun dengan cepat ketika dibangunkan, dan memberikan jawaban dengan perlahan dan ragu.
|
Dosa carita dan budhi carita
|
Langkah kai seperti terhentak, menurunkan dan mengangkat kaki secara cepat, langkah seperti diseret.
|
Berdiri dengan kaku.
|
Menata tempat tidur dengan serba salah, tidur telungkup, tubuh melintang, ketika dibangunkan bangun secara perlahan dengan memberikan jawaban seperti malas.
|
Moha dan vitakka carita
|
Berjalan secara acak dan tidak teratur, menurunkan kaki secara ragu-ragu, mengangkat kaki secara ragu-ragu, langkah menekan kebawah secara tiba-tiba.
|
Berdiri dengan kacau
|
Menata tempat tidur serba salah, tidur telungkup, tubuh melintang, ketika dibangunkan bangkit secara perlahan dan memberikan jawaban seperti marah.
|
Tabel watak berdasarkan cara melihat (dassanadito) dan keadaan mentalnya (dhammapavatti)
watak (carita)
|
Cara melihat
|
Keadaan mental
|
raga carita
|
Melihat obyek dengan lamban seolah keheranan, kagum ketika melihat kebajikan walaupun kecil, tidak lekas bergerak pergi ketika melihat suatu obyek.
|
Kemunafikan (maya), kesombongan (mana), banyak keinginan, pesolek, tidak gampang puas.
|
dosa carita
|
Tidak suka memandang obyek dengan lama, mudah lelah melihat obyek, mudah pergi bergegas melihat hal lain.
|
Kemarahan, permusuhan, meremehkan, menguasai, iri hati, kebencian.
|
moha carita
|
Melihat obyek dan berusaha menirukan tindakan orang lain walaupun sebenarnya tidak menyukainya.
|
Kekacauan, kemalasan, gelisah, cemas, ketidakpastian.
|
Saddha carita
|
Melihat obyek dengan lamban seolah keheranan, kagum ketika melihat kebajikan walaupun kecil, tidak lekas bergerak pergi ketika melihat suatu obyek
|
Dermawan, ingin menemui orang bijak, ingin mendengarkan ceramah mengenai kebijaksanaan, sederhana, jujur, memiliki kepercayaan tinggi.
|
Buddhi carita
|
Tidak suka memandang obyek dengan lama, mudah lelah melihat obyek, mudah pergi bergegas melihat hal lain.
|
Siap diajak bicara, banyak teman, penuh kesadaran dan kewaspadaan, memiliki usaha terarah serta bijaksana.
|
Vitakka carita
|
Melihat obyek dan berusaha menirukan tindakan orang lain walaupun sebenarnya tidak menyukainya
|
Cerewet, suka bergaul, mudah bosan melakukan tindakan, mudah gagal melaksanakan pekerjaan, batin berkeliaran, banyak perencanaan dan jarang melaksanakan
|
3. Bimbingan meditasi berdasarkan watak anak didik
Hasil analisa carita membuktikan bahwa setiap individu menpunyai watak yang berbeda-beda dengan berbagai kecenderungannya masing-masing. Watak yang penuh keyakinan sejajar individu yang memiliki watak keserakahan, karena keyakinan menjadi kuat ketika kamma yang menguntungkan muncul dalam diri orang yang memiliki watak keserakahan, karena keyakinan menjadi kuat ketika kamma yang menguntungkan muncul dalam diri orang yang memiliki watak serakah, hal ini disebabkan karena sifat-siaf khususnya dekat dengansifat-sifat ketamakan. Secara negatif ketamakan memiliki sifat mudah menyukai serta tidak terlalu keras, ketamakan mencari nafsu indera sebagai obyeknya. Sedangkan saddha carita tidak akan melepas sesuatu yang memberi manfaat.
Individu yang berwatak pandai sejajar dengan individu yang berwatak kebencian, karena pemahaman menjadi kuat ketika kamma yang menguntungkan muncul dalam diri individu yang berwatak kebencian. Hal ini disebabkan sifat-sifat khususnya adalah dekat dengan sifat-sifat kebencian. Secara negatif kebencian bersifat tidak senang dan tidak melekati obyeknya, sedangkan secara positif, pemahaman demikian juga terjadi pada individu yang berwatak kepandaian. Kebencian hanya mencari kesalahan-kesalahan yang nyata dan muncul dengan cara menyalahkan makhluk lain, sedangkan pemahaman (buddhi) muncul dengan cara menyalahkan bentuk-bentuk perpaduan (sankhara).
Individu yang memiliki sifat spekulatif sejajar dengan individu yang berwatak moha, karena vitakka carita yang menghalanginya sering muncul dalam diri orang yang beewatak moha yang sedang berusaha menimbulkan keadaan-keadaan bermanfaat yang belum muncul, hal ini disebabkan karena sifat-sifat khususnya dekat dengan sifat-sifat moha. Kebodohan memiliki sifat gelisah karena kebingungan, begitu juga vitakka carita gelisah memikirkan berbagai macam aspek yang berbeda, Moha berpikiran terombang-ambing dan bergerak lincah.
Penyesuaian kepribadian (carita) merupakan tahap pendekatan dalam pengembangan kepribadian yang merupakan sistem kerja untuk menyelaraskan tingkah laku manusia agar tercapai ketentraman batin melalui pendekatan ketenangan batin (samatha bhavana). Pembimbing yang berpengalaman akan mempergunakan pengenalan watak secara optimal. Pendekatan ketenangan batin menurut visuddhimagga menggunakan empat puluh obyek meditasi ketenangan terdiri dari (1) Sepuluh macam warna (kasina), (2) Sepuluh jenis kekotoran (asubha), (3) Sepuluh jenis perenungan (anusati), (4) Empat kediaman luhur (brahma vihara), (5) Empat keadaan meditasi mendalam (arupa), (6) Perenungan terhadap makanan menjijikkan (aharepatikulasanna), (7) Analisis empat unsure pembentuk materi (catthu dathu vavathana) (Vism.118-119).
Sepuluh kekotoran adalah mayat yang mengembung (uddhumataka) mayat kehitaman (vinilaka), mayat yang membusuk (vipubbaka), mayat yang dicacah dan tercerai berai (vicchiddhakam), mayat yang dicacah dan tercerai berai (hatavikkhitam), mayat yang berdarah (lohitaka), mayat yang penuh dengan ulat (puluvaka), dan tulang kerangka (atthika) (vism.105). "Jasmani ini memiliki sirat yang sama, menunggu kondisi yang sama, tidak terkecualikan" (M.I 58). Tujuan perenungan ini adalah untuk mengembangkan pengertian terhadap ketidakkekalan (anicca).
Sepuluh perenungan adalah perenungan terhadap Buddha ( Buddha nusati), perenungan terhadap dhamma (dhamanussati), perenungan terhadap sangha (sanghanussati), perenungan terhadap sila (silanussati), perenungan terhadap kedermawanan (caganussati), perenungan terhadap dewa-dewi (devatanussati), perenungan terhadap kematian (marananussati), kesadaran terhadap jasmani (kayagatasati), kesadaran terhadap pemafasan (anapanasati), perenungan terhadap kedamaian (upasammanussati), dan perenungan terhadap kedamaian (upasscnnanusati) (Vism. 105).
Empat kediaman luhur (brahma vihara) adalah sebagai berikut cinta asih (metta), belas kasih (karma), simpati (mudita), dan keseimbangan (Upekkha) (D. II. 196). Empat keadaan tanpa materi adalah dasar (landasan au ayatana) yang terdiri dari ruang tak terbatas (akasanancayathana), dasar ig terdiri atas kesadaran tak terbatas (vinnanacayatana), dasar yang terdiri dari kekosongan (akincannayatana), dasar yang terdiri bukan persepsi dan juga bukan non materi (nevasannasannanayatana). Satu perenungan makanan yaitu persepsi terhadap sifat makanan yang menjijikan. Satu analisis empat unsur {catthu dhatu vavatthana) yaitu analisis tentang empat unsur atau elemen. Buddha menunjukkan empat puluh obyek meditasi yang cocok dengan watak (carita) seseorang. Buddha mengklasifikasikan empat puluh obyek meditasi yang cocok dengan watak (carita) seseorang. Buddha mengklasifikasikan empat puluh obyek meditasi dengan enam watak (carita) sesuai dengan penggunaanya.
Raga carita obyek meditasi yang digunakan untuk melemahkan raga carita adalah sebelas obyek, terdiri dari sepuluh obyek asubha dan kayagathasati. Pertama dengan membayangkan atau melihat tubuh yang telah menjadi mayat diturunkan kedalam lubang kuburan, 'bengkak, membiru, bemanah, terbelah ditengahnya, dikoyak-koyak oleh burung, gagak atau serigala, hancur dan membusuk , beriumuran darah, dikerubungi oleh lalalt dan belatung, dan akhimya mempakan sebuah tengkorak. Selanjutnya menarik kesimpulan terhadap badannya sendiri, "Badanku ini juga mempunyai sifat-sifat itu sebagai apa adanya, tidak dapat dihidari ". Obyek perenungan kehidupan badan jasmani dengan bagian-bagiannya (kayagatthasati) atau lima kelompok kehidupan (pancakhandha) yang terdiri dari tiga puluh dua bagian, yaitu : rambut, bulu badan, kuku, gigi,' kulit, daging urat, tulang, sumsum, ginjal, jantung, hati, selaput dada, limpa, paru-paru, usus, saluran usus, perut, kotoran, empedu, lendir, nanah, darah, kering, lemah, air mata, minyak kulit, lidah, ingus, caiaran sendi, air kencing, dan otak (D. III. 104). Perenungan jasmani bukan aku, bukan milikku. Pikiran yang masih melekat dengan obyek-obyek kecantikan, kemdahan, menggunakan salah satu sepuluh asubha dan kayagathasati sebagai obyek perenungannya. Batin akan terbebas dari nafsu-nafsu indira dengan perenungan asubha dan kayagathasati, sehingga mengetahui kenyataan mulia dan menganggap nafsu-nafsu indria sebagai suatu yang tidak bersih, dan menjijikan.
Dosa carita merupakan watak pemarah dan pembenci, obyek yang digunakan empat kediaman luhur (brahma vihara) yaitu, metta, karuna, mudita dan upekkha dan empat kasina, yaitu, wama hijau (nila), putih (oddata), merah (lohita) dan warna kuning (pita). Delapan obyek ini dapat melenyapkan dosa carita, dengan berusaha dikembangkan dalam perenungan meditasi agar dosa carita padam sedikit demi sedikit contoh pendekatan dengan obyek kasina merah (lohita), pertama harus memahami gambaran batin (nimita) pada wama merah baik pada bunga, kain, atau unsure wama, jika seseorang memiliki kebajikan (panna) dan sudah sebelunmya, maka akan muncul gambaran batin pada dirinya, ketika melihat semak-semak bunga sepatu, atau hamparan bunga, kain, permata merah atau unsur wama. Untuk pemula mengambil bunga seperti, bunga sepatu, kain merah, dan sebagainya serta menghamparkanya pada sebuah keranjang, sehingga sama sekali tidak tampak benang sari ataupun tangkainya, atau hanya denga kelopak bunganya saja. Atau bisa mengikatkan kain dengan warna "merah". Bentuk dan cirinya tidak boleh ditinjau konsep merah dipahami terkadang dengan mata terbuka, dan mata tertutup, dan dikembangkan beberapa kali sampai nimita muncul. Kesalahan apapun dalam kasina akan terlihat pada nimita yang diperoleh.
Moha carita, orang yang mempunyai moha carita melaksanakan sesuatu berdasarkan kebodohan batin, cenderung kearah kelemahan batin, bingung ragu-ragu khawatir, menggantungkan pada pendapat orang lain, malas pendiriannya tidak tetap, kukuh memegang suatu pandangan. Obyek meditasi yang digunakan adalah anapannasati, obyek keluar masuknya napas, yaitu mengetahui pada saat menarik napas, mengetahui pada saat menghembuskan napas. Mula-mula sikap meditasi, duduk tenang, badan nyaman dan rileks, memejamkan mata, memusatkan perhatian pada masuk dan keluarnya napas, menyadari udara yang masuk dan keluar melalui hidung. Ketika menarik napas panjang, menyadari "menarik napas panjang", atau mengeluarkan napas panjang, mengetahui "mengeluarkan napas panjang". Ketika menarik napas pendek, mengetahui "mengeluarkan napas pendek", atau ketika menarik napas pendek menyadari, menyadari "menarik napas pendek", begitu seterusnya. Tetap bersikap pasif sebagai pengamat, tidak merubah jalan pernapasan, tetap menyadari dengan tenang.
Membangkitkan kewaspadaan apabila peristiwa-peristiwa mental mulai terjadi dan menggangu pengamatan pada pemafasan. Mungkin suatu ketenangan muncul pada suatu pikiran, baik yang berasal dari badan, berasal dari luar, maupun ketenangan, sehingga mengakibatkan perhatian atau kewaspadaan pada ketenangan tersebut untuk beberapa saat, menyadari bahwa ketenangan itu telah terjadi, dan kembali melakukan pengamatan terhadap masuk, keluarnya napas. Setelah beberapa menit melakukan pemafasan terhadap peristiwa-peristiwa mental, dan menyadari berbagai peristiwa mental serta proses perubahan kemudian membangkitkan kembali kewaspadaan pada napas. Menarik napas panjang beberapa kali, untuk mengakhiri proses dan membuka mata perlahan-lahan. Konsentrasi pada proses fisik dengan cepat memberikan hasil yang signifikan. Peristiwa-peristiwa mental mulai terjadi dan menggangu pengamatan pada pemafasan. Peristiwa-peristiwa atau kejadian di luar mengenai kesadaran seprti gonggongan anjing, suara pintu di tutup, hari yang makin panas, lalat yang hinggap di wajah.
Kewaspadaan terhadap pemafasan terganggu sementara kewaspadaan berpindah pada gangguan-gangguan atau suara eksternal. Keswaspadaan bangkit ketika pengamatan terhadap pernapasan terganggu, pengamatan pemafasan dimulai lagi. Pada momen tertentu suatu ketenangan muncul pada pikiran, mengganggu dan mengalihkan kewaspadaan atau perhatian pada keinginan tersebut untuk beberapa saat, kemudian menyadari bahwa ketenangan yang mengganggu telah terjadi maka dialihkan pada pengamatan pemafasan kembali.
Obyek samatha bhavana untuk saddha carita adalah enam anuusati (perenungan) yaitu buddhanussati, dhammanussati, sanghanvssati, silanussati, caganussati, dan devatanussati. Contoh perenungan terhadap sila untuk orang yang berwatak saddha carita adalah pertama mengembangkan perenungan terhadap kebaikan-kebaikan sila yang berbeda-beda yang dimiliki dalam kualitas istimewa yang tidak terkoyak "Sungguh berbagai jenis sila yang berbeda -beda yang dimiliki adalah tidak koyak, tidak cacat, tidak temoda, bebas, dipuji para bijaksana, tidak melekat dan sangat baik untuk berkonsentrasi" (A. III. 286). Selama melakukan perenungan sifat-sifat yang dimilikinya dalam kualitas yang istimewa, pada saat itu pikiran tidak tergoda oleh katamakan, atau dipengaruhi oleh kebencian, dan kebodohan. Pikiran sangat menjadi lapang saat dipengaruhi oleh sila. Untuk umat perumah tangga merenungkan sila dalam bentuk sila umat biasa, sehingga mencapai keyakinan yang penuh.
Buddhi carita melaksanakan sesuatu selalu berhati-hati, cenderung kearah perenungan terhadap tiga corak umum (tilakkhana), sering bermeditasi, bersedia menerima saran orang lain, dan mempunyai kawan-kawan yang baik. Obyek untuk buddhi carita dalam melaksanakan samatha bhavana adalah marananussati, upasamannusati, aharepatikulasanna, dan catthudhatuvavathana. Contoh perenungan terhadap kedamaian (upasamanussati), pertama merenungkan kualitas-kualitas istimewa dari nibbana, padamnya penderitaan, lenyapnya nafsu (viraga), kesombongan, hapusnya kepercayaan salah (alaya), berakhimya lingkaran (samsara), hancumya nafsu keinginan (tanha), berhentinya nafsu dan pencapaian nibbhana. (A.II.34). Demikian kedamaian direnungkan dengan berkaitan dengan kualitas-kualitas istimewa lainnya dari kedamaian. Ketika merenungkan kedamaian dari kualitas-kualitas istimewa dari kesombongan yang sia-sia dan sebagainya, batin telah tidak lagi tergoda oleh ketamakan, kebencian, atau kebodohan, batin telah terarah pada kesempatan tersebut, diinspirasikan oleh kedamaian, sehingga dengan menyadari perkataan-perkataan batin dapat memiliki keyakinan terhadap kedamaian.
Vitakka carita melaksanakan sesuatu berdasarkan tergesa-gesa, cenderung kearah kegugupan, suka berteori, pikirannya suka berkeliaran, tidak suka bekerja untuk kepentingan sosial. Obyek yang sesuai dengan watak ini adalah masuk dan keluarnya napas (annapannasati).
Empat mahabuta (pathavi kasina, aloka kasina, tejo kasina, vayo kasina) empat arupa serta aloka kasina, dan akasa kasina dapat dijadikan obyek meditasi oleh semua orang tampa memperhatikan caritanya.
Watak (carita)
|
Obyek meditasi
|
Sikap latihan
|
Raga carita
|
Sepuluh asubha dan kayagatasati
|
Berjalan, berdiri, duduk serta menghindari berbaring.
|
Dosa carita
|
Empat kediaman luhur (brahma vihara) yaitu, metta, karuna, mudita dan upekkha dan empat kasina, yaitu, wama hijau (nila), putih (oddata), merah (lohita) dan waena kuning (pita)
|
Berdiri dan berjalan
|
Moha carita
|
Anapannasati, obyek keluar masuknya napas
|
Berdiri dan berjalan
|
Saddha carita
|
Enam anuusati(perenungan) yaitu buddhanussati, dhammanussati, sanghanvssati, silanussati, caganussati, dan devatanussati.
|
Berdiri dan berjalan
|
Buddhi carita
|
Obyek meditasinya marananussati, upasamannusati, aharepatikulasanna, dan catthudhatuvavathana.
|
Semua posisi.
|
Vitakka carita
|
anapannasati
|
Berjalan, berdiri menghindari duduk dan berbaring.
|
Semua carita
|
Empat mahabuta (pathavi, apo, tejo, vayo) dan empat arupa.
|
Semua posisi
|
3. Pengembangan Kepribadian Dengan Pandangan Terang (Vipassana Bhavana)
Obyek dalam pelaksanaan vipassana bhavana adalah nama dan rupa (batin dan materi), atau panca khandha (lima kelompok faktor kehidupan). Vipassana bhavana dilakukan dengan cara memperhatikan gerak-gerik nama dan rupa terus menerus, sehingga dapat melihat dengan nyata bahwa nama dan rupa dicengram oleh anicca (ketidakkekalan), dukkha (derita), dan anatta (tanpa aku).
Meditasi pandangan terang tidak diperlukan jhana. Orang yang melakukan vipassana bhavana harus memulai dari konsentrasi permulaan sampai memiliki kebijaksanaan (panna) yang sempuma. Dengan melaksanakan vipassana bhavana dapat mengakhiri proses pembentukan pandangan salah sehingga memproleh orientasi hidup yang baik.
Praktek vipassana bhavana dapat memilih salah satu dari keempat pengamatan sebagai latihan permulaan juga disesuaikan dengan wataknya. Manusia yang kurang cerdas dan tergolong yang memiliki watak yang penuh nafsu dianjurkan mulai dengan pengamatan terhadap jasmani, dilanjutkan dengan pengamatan terhadap perasaan. Mereka yang cukup cerdas dengan watak yang penuh nafsu mulai dengan pengamatan terhadap pikiran, sedangkan yang cerdas tidak tergolong penuh nafsu mengambil obyek pengamatan terhadap fenomena terhadap dharma.
Vipassana bhavana merupakan sistim atau cara untuk melaksanakan empat macam perenungan (satipathana), yang terdiri dari kaya nupassana ( perenungan terhadap badan jasmani), vedana nupassana (perenungan terhadap perasaan), citta nupassana (perenungan terhadap kenyataan atau dharma) (M.I. 57). Sebenamya yang berkembang dalam latihan vipassana bhavana ialah perhatian yang tajam dan kesadaran yang kuat. Perenungan insight (vipassana bhavana) yaitu perenungan jasmani (kaya nupassana ) dilakukan terhadap napas (anapanassatthi), empat posisi tubuh (iriyapatha), kewaspadaan (sati sampajanna), perenungan terhadap badan jasmani yang penuh kekotoran (kayagatasati) (M.I. 56). Perhatian terhadap napas (anapanassati) dilakukan dengan memantapkan perhatian dengan kewaspadaan pada pemafasan, saat menarik napas panjang menyadari menarik napas panjang, saat mengeluarkan napas panjang, menyadari mengeluarkan napas panjang, saat menarik naras pendek, menyadari menarik napas pendek, saat mengeluarkan napas pendek, menyadari mengeluarkan napas pendek. Mengetahui seluruh tubuh akan menarik napas, akan mengeluarkan napas, akan menarik napas menenangkan unsur-unsur jasmani, akan mengeluarkan napas menenangkan unsure jasmani. Dengan demikian telah melakukan perenungan jasmani di dalam, di luar, dan di luar dirinya, selanjutnya merenungkan proses timbulnya segala sesuatu di dalam jasmani , kemudian melakuakan perenungan proses padamnya segala sesuatu di dalam jasmani. Dengan melakukan perenungan proses timbul dan padamnya segala sesuatu di dalam jasmani, atau bila sadar "ada jasmani", begitu jauh hanya sekedar untuk pengetahuan dan untuk perhatian murni, maka seseoarang hidup bebas tidak melekat pada apapun di dunia.
Melakukan perenungan terhadap perasaan (vedana nupassana), dengan senantiasa melakukan perenungan perasaan sebagai perasaan, pada saat mengalami perasaan yang menyenangkan, menyadari "mengalami perasaan yang menyenangkan, menyadari "mengalami perasaan yang menyenangkan" , jika mengalami perasaan yang tidak menyenangkan, menyadari mengalami perasaan yang tidak menyenangkan", pada saat mengalami perasaan yang bukan menyenangkan dan juga yang tidak bukan menyenangkan, menyadari " mengalami perasaan bukan menyenangkan dan juga bukan tidak menyenangkan.
Pada saat mengalami perasaan keduniawian yang menyenangkan, menyadari "mengalami perasaan duniawi yang menyenangkan ", jika mengalami perasaan duniawi yang tidak menyenangkan, menyadari " mengalami perasaan duniawi yang tidak menyenangkan, pada saat mengalami perasaan keduniawian yang bukan menyenangkan dan juga bukan tidak menyenangkan, menyadari " mengalami perasaan keduniawian bukan menyenangkan dan juga bukan tidak menyenangkan". Senantiasa melakukan perenungan terhadap perasaan didalam dirinya, diluar dirinya, didalam dan diluar dirinya, berarti malakukan perenungan proses timbulnya perasaan, atau bila sadar "ada perasaan" sebegitu jauh hanya sekedar untuk pengetahuan dan perhatian mumi, mak hidup bebas tidk melekat lagi pada apapun didunia.
Perenungan terhadap pikiran (citta nupasana) senantiasa melakukan perenungan pikiran, pada saat pikirannya disertai hawa nafsu, menyadari "pikiran disertai hawa nafsu", jika pikiran bebas dari hawa nafsu, menyadari "pikiran bebas dari hawa nafsu", pada saat pikirannya di sertai kegelapan batin, menyadari "pikiran bebas dari kegelapan batin", pada saat pikirannya teguh, menyadari "pikirannya teguh", jika pikirannya disertai keragu-raguan,"menyadari bahwa pikirannya disertai keragu-raguan", pada saat pikirannya berkembang menyadari "pikiran sedang berkembang", atau jika pikirannya luhur, menyadari "pikirannya luhur", atau jika pikirannya rendah, menyadari "pikiran rendah". Pada saat pikirannya terpusat menyadari "pikirannya terpusat", jika pikirannya bebas, menyadari "pikirannya bebas" atau jika pikirannya tidak bebas, menyadari "pikirannya tidak bebas". Melakukan perenungan terhadap pikim didalam diri, diluar diri, didalam dan diluar diri, seseorang telah melakukan perenungan terhadap proses timbul, padam, timbul dan padamnya pikiran, dan hidup bebas tidak melekat kepada apapun di dunia ini.
Perenungan terhadap obyek pikiran ( dhammanupassana ), meliputi terhadap lima rintangan (panca nivarana), keinginan pada kesenangan indria (kamma canda), itikat jahat (vyapada), kemalasan dan kelambahan batin (thinamida), perenungan obyek pikiran sebagai obyek pikiran dalam obyek lima kelompok perpaduan yang menjadi obyek kemelekatan yaitu; melakukan perenungan terhadap rupa, vedana, sanna, sankara, vinna, timbulnya rupa, vedana, sanna, sankhara, vinnana, dan padamnya rupa, vedana, sanna, sankhara, vinnana (A. II. 62).
Perenungan obyek pikiran dalam aspek enam landasan dalam dan luar, yaitu dengan menyadari, landasan indria penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapan,sentuhan, pikiran dan obyeknya, bentuk, suara, kecapan, sentuhan badan, obyek pikiran, dan menyadari setiap belenggu yang timbul dari landasan dan obyek, dan juga menyadari timbul dan padamnya belenggu yang belum ada sebelumnya, dan pada waktu yang akan datang tidak akan timbul belenggu yang telah padam.
Perenungan obyek pikiran sebagai obyek pikiran dalam aspek tujuh faktor perenungan sempuma, dengan menyadari keberadaan, timbulnya, dan pengebangan perhatian murni (sati sambojjhana), dan keseimbangan batin ) (uphekkha sambhqjjana), kegiuran (piti sambhojjana), dan ketenangan (pasadi sambhojjana). Perenungan obyek pikiran dalam aspek keempat kesunyataan mulia (catur arya sacca), dengan menyadari ; dukkha, sebab dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan untuk melenyapkanya.
Pendekatan insight sebagai jalan menuju perubahan kepribadian dalam pengembangan kepribadian menggunakan sikap penuh perhatian, dengan berusaha mencapai kesadaran penuh terhadap setiap dan semua kondisi batin. Medetator tidak membiarkan perhatiannya terpusat pada pikiran, atau perasaan tertentu, melainkan berusaha mempertahankan sikap menjadi "saksi" yang netral terhadap sensasi- sensasi yang muncul.
Tahap pemulaan, pendekatan ini memerlukan sikap penuh perhatian (sati), seseorang medetator menghadapi setiap pengalaman, setiap perhatian batin, seolah-olah baru terjadi untuk yang pertama kalinya. Pembatasan perhatian yang dilakukan sekedar untuk mencatat setiap momen kesadaran secara berturut-turut. Munculnya rangkaian asosiasi, kategorisai, atau reaksi efektif dalam batin dan tidak menolak atau mengejamya, tetapi mengeluarkannya dan kesadaran setelah mencatatnya. Setiap obyek kesadaran mempunyai nilai yang tidak mengistimewakan sesuatu sekedar menjadi latar belakang. Munculnya tahap pemahaman "insight" ditandai oleh persepsi yang semakin luas dan semakin tepat terhadap aneka kegiatan batin. Penyadaran terhadap batin yang selalu berubah-ubah dengan menyaksikan kombinasi faktor-faktor jiwa yang terus muncul. Batin yang selalu berubah dan imperasional menyebabkan individu ingin melarikan diri dari duma pengalaman.
Kedewasaan pribadi menurut agama Buddha akan terbentuk melalui proses pengenalan psikis secara mendalam sehingga terarah pada reaksi yang tepat terhadap berbagai fenomena. Berbagai bentuk pendidikan sekolah tanpa menggunakan pendidikan meditasi akan mengantarkan anak didik pada kecerdasan kognitif tetapi pemahaman mengenai diri sendiri kurang optimal. Pendekatan meditasi adalah pendekatan dengan pengenalan diri secara sempurna.
D. Implikasi Pengembangan Kepribadian Bagi Anak Didik
1. Memahami Tugas Perkembangan Anak Didik
Robert Havighurst (Hurlock, 1980:10) melalui perspektif psikososial berpendapat bahwa periode yang beragam dalam kehidupan individu menuntut untuk menuntaskan tugas-tugas perkembangan yang khusus. Tugas-tugas berkaitan erat dengan perubahan kematangan, persekolahan, pekerjaan, pengalaman beragama, dan hal lainnya sebagai prasyarat untuk pemenuhan kebahagiaan hidupnya.
Tugas perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, apabila tugas dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya; sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya. Tugas perkembangan anak pada masa sekolah (6-12 tahuan) adalah:
a. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. Melalui pertumbuhan fisik dan otak, anak belajar dan berlari semakin stabil, makin mantap dan cepat. Pada masa se-kolah anak sudah sampai pada taraf penguasaan otot, sehingga sudah dapat berbaris, melakukan senam pagi dan permainan-permainan ringan, seperti sepak bola, loncat tali, berenang, dan sebagainya.
b.Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. Hakikat tugas ini ialah (1) mengembangkan kebiasaan untuk memelihara badan, meliputi kebersihan, keselamatan diri, dan kesehatan; (2) mengembangkan sikap positif terhadap jenis kelaminnya (pria atau wanita) dan juga menerima dirinya (baik rupa wajahnya maupun postur tubuhnya) secara positif.
c.Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya. Yakni belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru serta teman-teman sebayanya. Pergaulan anak di sekolah atau teman sebayanya mungkin diwarnai perasaan senang, karena secara kebetulan temannya itu berbudi baik, tetapi mungkin juga diwarnai oleh perasaan tidak senang karena teman sepermainannya suka mengganggu atau nakal.
d.Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. Apabila anak sudah masuk sekolah, perbedaan jenis kelamin akan semakin tampak. Dari segi permainan umpamanya akan tampak bahwa anak laki-laki tidak akan memperbolehkan anak perempuan mengikuti permainannya yang khas laki-laki, seperti main kelereng, main bola, dan layang-layang.
e.Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung. Salah satu sebab masa usia 6-12 tahun disebut masa sekolah karena pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohaninya sudah cukup matang untuk menerima pengajaran. Untuk dapat hidup dalam masyarakat yang berbudaya, paling sedikit anak harus tamat sekolah dasar (SD), karena dari sekolah dasar anak sudah memperoleh keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung,
f.Belajar mengembangkan konsep sehari-hari. Apabila kita telah melihat sesuatu, mendengar, mengecap, mencium, dan mengalami, tinggallah suatu ingatan pada kita. Ingatan mengenai pengamatan yang telah lalu itu disebut konsep (tanggapan). Demikianlah kita mempunyai tanggapan tentang ayah, ibu, rumah, pakaian, buku, sekolah, dan juga mengenai gerak-gerik yang dilakukan, seperti berbicara, berjalan, berenang, dan menulis. Bertambahnya pengalaman akan menambah perbendaharaan konsep pada anak. Tak perlu diuraikan lagi bahwa dalam kehidupan sangat banyak konsep yang dibutuhkan. Semakin bertambah pengetahuan, semakin bertambah pula konsep yang diperoleh. Tugas sekolah yaitu menanamkan konsep-konsep yang jelas dan benar. Konsep-konsep itu meliputi kaidah-kaidah atau ajaran agama (moral), ilmu pengetahuan, adat istiadat, dan sebagainya. Untuk mengembangkan tugas perkembangan anak ini, maka guru dalam mendidik/mengajar di sekolah sebaiknya memberikan bimbingan kepada anak untuk: (1) Banyak melihat, mendengar, dan mengalami sebanyak-banyaknya tentang sesuatu yang bermanfaat untuk peningkatan ilmu dan kehidupan bermasyarakat. (2) Banyak membaca buku-buku atau media cetak lainnya. Semakin dipahami konsep-konsep tersebut, semakin mudah untuk memperbincangkannya dan semakin mudah pula bagi anak untuk mempergunakannya pada waktu berpikir.
g.Mengembangkan kata hati. Hakikat tugas ini ialah mengembangkan sikap dan perasaan yang berhubungan dengan norma-norma agama. Hal ini menyangkut penerimaan dan penghargaan terhadap peraturan agama (moral) disertai dengan perasaan senang untuk melakukan atau tidak melakukannya. Tugas perkembangan ini berhubungan dengan masalah benar-salah, boleh-tidak boleh, seperti jujur itu baik, bohong itu buruk, dan sebagainya.
h.Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Hakikat tugas ini ialah untuk dapat menjadi orang yang berdiri sendiri, dalam arti dapat membuat rencana, berbuat untuk masa sekarang dan masa yang akan datang bebas dari pengaruh orangtua dan orang lain.
i.Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial dan lembaga-lembaga. Hakikat tugas ini ialah mengembangkan sikap sosial yang demokratis dan menghargai hak orang lain. Umpamanya, mengembangkan sikap tolong-menolong, sikap tenggang rasa, mau bekerjasama dengan orang lain, toleransi terhadap pendapat orang lain dan menghargai hak orang lain.
2. Implikasi bagi Pengembangan Kepribadian Anak Didik
Implikasi tugas-tugas perkembangan terhadap meditasi adalah untuk membantu tercapainya perkembangan yang optimal pada setiap tahapannya. Penerapan meditasi bagi anak didik tidak sama dengan membacakan cerita padanya (dengan pembacaan pasif). Anak didik akan dapat memahami dan dilibatkan dengan apa yang sedang dibacakan apabila dalam pelaksanaan meditasi dipandu agar aktif atau terlibat diri. Pembacaan dalam cerita dan meditasi berbeda fungsi. Pembacaan cerita kepada anak-anak adalah suatu kebutuhan, sebab membantu anak untuk mempelajari dan mengeja, sedang dalam meditasi memungkinkan untuk bebas memeriksa.
Masing-masing praktek meditasi mempunyai tema yang berbeda dan memberi kesempatan kepada anak didik untuk mengalaminya. Mereka merasakan cinta Buddha, memancar cinta kasih yang tulus, memanjat gunung, koleksi kerang laut, menjadi seekor burung, merasakan sentuhan angin di muka mereka, pergi ke bulan. Dapat juga melaksanakan meditasi dangan posisi duduk, berbaring dan berjalan (vipassana).
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk membawa imajinasinya kedepan. Yang terpenting belajar untuk menghargai Dharma lebih mendalam. Dengan kata lain, mengambil bagian dalam meditasi dan mempelajari sentuhan yang bersumber dari cinta kasih, kebijaksanaan dan kekuatan di dalam dirinya. Bagaimana cara melakukan hal itu? Beberapa latihan peregangan atau yoga yang direkomendasikan.
a. Mengendorkan tubuh: sebelum mengikuti latihan peragaan, untuk menghilangkan ketegangan pada anak-anak, kendorkan masing-masing bagian tubuh, mulai dari jari kaki sampai kepala atau anda dapat melakukan Meditasi Relaksasi dengan anak-anak.
b. Pernafasan Mendalam
1) Mengumpulkan anak-anak untuk duduk menyilangkan kaki/bersila (padmasana), telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan.
2) Punggung tegak lurus dan rileks agar arus tenaga alami naik turun pada tulang belakang.
3) Agar anak-anak menutup mata;
4) Latihlah bernafas mendalam untuk beberapa saat.
a) Saat bernafas berhitunglah satu sampai tiga, menahan nafas dan mengeluarkan sambil berusaha untuk menghitung tiga kali;
b) Pada saat anda bernafas, anda menghirup energi segar, cinta, perdamaian, dan kegembiraan. Energi itu sedang memasuki dan penyebaran ke seluruh tubuh anda.
c) Pada saat anda mengeluarkan nafas, bayangkan perasaan-perasaan negatif kesedihan, kebosanan, kelelahan atau kemarahan segera keluar melalui hidung, meninggalkan tubuhmu dan menghilang.
d) Dapat dikembangkan pula dengan menghitung pernafasan. Contoh: menghitung 1 tarik nafas, hitung 2 keluar nafas, hitung 3 tarik nafas, hitung keluar nafas dan seterusnya sampai 10 hitungan diulangi, kemudian diulangi lagi.
c. Konsentrasi Pada Pikiran
Langkah ini merupakan pemusatan pikiran pada satu titik. Hal ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut: Bayangkan suatu titik pada bibir atas anda dan konsentrasikan pikiran pada titik itu. Kendorkan bayangan, semua perhatian dan energi ke dalam titik itu serta biarkan pikiran yang berkeliaran atau memori lewat keluar, dengan pelan-pelan kembalikan perhatian ke titik itu.
d. Perluasan Pikiran
Ketika tubuh, emosi dan pikiran anak-anak menjadi tenang, akan siap ke langkah keempat: pusatkan kembali ke dalam diri anda jawab dan bijaksana. Pandulah anak-anak untuk memperluas kesadaran dan imajinasi melalui perumpamaan. Dengan menggunakan perumpamaan yang dipandu, anak-anak akan mempelajari untuk melihat diri mereka pada suatu layar film dalam pikirannya tentang kepedulian, penuh kasih. Hal ini akan membantu menjadi lebih baik menjadi manusia dengan pemikiran mereka pelan-pelan mentransformasi kepada orang lain secara positif dan sehat.
e. Aktivitas Produktif
Pelan-pelan bawa perhatian kembali ke tubuh masing-masing. Rasakanlah semua komponen tubuh anda. Gerakkan jari tangan dan kaki anda pelan-pelan. Putar kepala anda. Kapan anda siap, pelan-pelan buka mata anda. Sekarang waktu untuk langkah yang ke lima: berdasarkan pada energi baru, kebijaksanaan, pemahaman yang mendalam, mempertinggi kesadaran ke dalam beberapa aktivitas yang produktif dan bermanfaat. Arahkan anak-anak untuk menggali kreativitas dan energi baru yang dipusatkan ke dalam tarian, seni, menulis cerita, musik, berbagi, diskusi kelas, komunikasi kreatif, permainan kesadaran atau pekerjaan yang akademis.
f. Meditasi Menggunakan Nada suara
Tolong ingat bahwa manakala anda sedang mengatakan, anda akan melakukannya dengan lambat, suara lembut, diperlonggar, berhenti sebentar untuknya biarkan peristiwa meresap, kemudian anak, menutup mata dan pusatkan dalam batin, memvisualisasikan, dan merasakan peristiwa itu. Menggunakan suara adalah sangat penting. Anda akan menemukan sesuatu terbaik untuk menuntun suara beberapa nada, mengatakannya semakin pelan, dengan suatu kualitas ketenangan.
g. Meditasi Bunga Teratai (Buddha menghargai: seperti suatu bunga teratai berbunga tumbuh ke luar di atas permukaan air yang berlumpur, kita dapat berada di atas penderitaan dan pengotoran hidup).
Bayangkanlah anda adalah suatu benih bunga teratai yang berada di bawah suatu kolam bunga teratai yang berlumpur. Ada lumpur semua di sekitar anda, dan anda dapat merasakannya. Di atas anda, kolam kotor yang berlumpur, kotoran dan lumpur, ada udara dan sinar matahari. Anda adalah tidak lemah namun dengan semangat anda mulai perjalanan ke arah permukaan.
Dengan bertekad, anda mulai untuk bergerak dalam tanah. Anda tumbuh berakar dilumpur itu. Batang yang kecil tumbuh ke atas pelan-pelan. Tiba-tiba, "meletus" anda keluar dari lumpur! Batang tumbuh dan lebih tinggi, lebih tinggi. Anda naik ke atas pelan-pelan, menerobos air yang berlumpur itu. Tiba-tiba, anda ke luar dari kolam yang berlumpur! Anda menjangkau ke atas ke arah matahari yang hangat, menyinari anda.
Tunas bunga terataimu mulai mengakar ke puncak batangmu. Meluas dan tumbuh lebih besar dan lebih besar, akhirnya penuh bunga. Bunga teratai putih berbunga. Anda berdiri dengan indahnya di atas air berlumpur, bukan terkotori oleh lumpur dari mana anda tumbuh. Anda putih dan indah semerbak.
Semua orang melihat anda kagum pada kecantikan mu! Penentuan untuk tumbuh ke luar dari kolam berlumpur mengingatkan Buddha dan perjalanannya ke arah penerangan. Buddha, seperti bunga teratai, apakah ditentukan tumbuh ke luar dari lingkungan berlumpur, kekotoran dan penderitaan hidup. Ia telah melakukan semua dan sedang menunjukkan bahwa semua bisa melakukan. Kita mungkin punya kekotoran tetapi kita semua mempunyai potensi meninggalkan kekotoran dan kebijaksanaan menuju keberhasilan, seperti Buddha.
Anda adalah bunga teratai putih indah, dan peran mu adalah untuk mengingatkan orang untuk naik di atas penderitaan dan kekotoran mereka, seperti halnya anda sedang timbul di atas air berlumpur dan bukan terkotori oleh lumpur dari mana anda tumbuh.
h. Meditasi Dupa/Bau-Harum (Nilai Buddha: Dupa/Bau-Harum simbol keharuman kemurnian moral dan mengingatkan kepada kebaikan).
Bayangkan suatu batang dupa/bau-harum. Seseorang mengikuti dan menyalakannya dengan korek api. Orang kemudian menggunakan korak api bersinar dan menyalakannya. Dengan Seketika, anda sedang terbakar mengeluarkan asap.
Seperti anda sedang membakar, tubuh mu menyemburkan bau semerbak menyenangkan. Keharuman ini menyebar melalui udara dan membawa kebahagiaan dan kegembiraan ke pikiran masyarakat.
Orang kemudian menawarkan anda kepada Buddha. Anda sedang memasuki suatu pot dupa berbau harum. Anda berdiri dengan gembira dalam pot berbau harum, sebab anda mengetahui bahwa anda mempunyai sebuah peran yang penting untuk dipegang. Keharuman simbol dari moral murni. Dan ini mengingatkan untuk menanami kebaikan. Keharuman ini yang tersebar di segala jurusan sepanjang dunia.
Seperti anda sedang terbakar habis, anda juga mengingatkan untuk mencoba dan terbakar habis yang tidak baik, pemikiran egois atau kekejaman. Mereka perlu mencoba untuk suka anda, terbakar habis tindakan egois mereka, kebahagiaan dan keharuman membawa kepada dunia. Biarkan tiap-tiap nafas semua orang ke luar ke dalam dunia penuh dengan keharmonisan dan mencintai. Melanjutkan untuk menyebar keharuman mu di segala jurusan.
i. Meditasi Pelangi (Buddha menghargai: anak-anak menemukan kebaikan yang dimiliki dan potensinya)
Rasakanlah tubuhmu bercahaya dan bersinar. Lihatlah semua warna pelangi itu. Merasakanlah tubuhmu yang menjadi semua warna pelangi itu.
Pelan-Pelan, anda mengeluarkan warna merah. Tubuhmu menjadi merah. Rasakanlah diri anda mengeluarkan kekuatan dan energi. Anda kini penuh dengan kekuatan dan energi.
Pelan-Pelan, anda kini mengeluarkan warna orange. Tubuhmu menjadi orange. Rasakanlah diri anda mengeluarkan kegembiraan dan kebahagiaan. Anda kini penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan.
Pelan-Pelan, anda kini mengeluarkan warna kuning. Tubuhmu menjadi kuning. Rasakanlah diri anda mengeluarkan kecerdasan/inteligen. Anda kini penuh dengan kecerdasan/inteligen.
Pelan-Pelan, anda kini mengeluarkan warna hijau. Tubuhu lengkap menjadi hijau. Rasakanlah diri anda mengeluarkan persahabatan dan keselarasan. Anda kini penuh dengan persahabatan dan keselarasan.
Pelan-Pelan, anda kini mengeluarkan warna biru. Tubuhmu menjadi biru. Rasakanlah diri anda mengeluarkan perdamaian/damai. Anda kini penuh dengan perdamaian/damai.
Pelan-Pelan, anda kini mengeluarkan warna warna nila. Tubuhmu menjadi nila. Rasakanlah diri anda mengeluarkan kehalusan. Anda kini penuh dengan kehalusan.
Pelan-Pelan, anda kini mengeluarkan warna violet. Tubuhmu menjadi violet. Rasakanlah diri anda mengeluarkan kecantikan dan respek diri. Anda kini penuh dengan kecantikan dan respek diri..
Anda adalah pelangi, warnamu sedang menyebar ke luar di mana-mana. Rasakanlah diri anda menjadi lebih besar dan lebih besar, warnamu mengarah ke luar dan lebih lanjut, sampai mereka menutupi semua ruang, kemudian sampai keseluruhan negeri, dan sampai keseluruhan dunia. Seperti anda membentangkan semua warna, anda juga membentangkan energi, kebahagiaan, kecerdasan/inteligen, persahabatan, perdamaian/damai, kecantikan dan kehalusan. Anda membentang terus dan bahkan lebih besar. Sekarang warna cahaya mu adalah menyebar sepanjang; ke seluruh alam semesta. Anda sebesar alam semesta, cahaya mu bersinar ke luar di tiap-tiap arah ruang spasi.
Pelan-Pelan, semua warna berubah jadi suatu cahaya putih. Cahaya putih ini kini mengalir sepanjang puncak dari kepalamu menuju kepikiranmu. Merasakan semua cahaya putih memasuki pikiran mu.
j. Meditasi Cahaya (Buddha menghargai: anak-Anak mempelajari tentang arti penting dalam menawarkan cahaya kepada Buddha dan arti nya dalam konteks Buddha)
Bayangkanlah anda adalah suatu lilin bunga teratai. Seseorang berjalan ke arah anda dan menyalakan sumbumu. Anda kini mengeluarkan suatu cahaya orange kecil. Pelan-Pelan, tubuh mu menjadi warna orange. Rasakanlah diri anda mengeluarkan cahaya orange hangat. Seseorang mengangkat anda ke atas dan menempatkan anda pada meja makam suci.
Cahaya orangemu hangat seperti terangnya kebijaksanaan. Anda kini bersinar dengan lebih terang, lebih lanjut ketika terang/cerdas seperti yang anda dapat, untuk menghalau kegelapan ketidak-tahuan. Cahayamu menandakan Ajaran Buddha itu. AjaranNya membantu dan memandu manakala dalam kegelapan. Kapan kita bertindak dengan sangat buruk dan mendapat marah, ini merupakan suatu jika kita adalah di dalam kegelapan. Kita memerlukan cahaya Ajaran Buddha untuk membantu kami.
Cahayamu membantu mengingatkan orang tidak tinggal di kegelapan tetapi menerangi diri mereka dengan ajaran Buddha. Anda adalah cahaya orange bersinar. Rasakanlah diri anda berbunga. Cahayamu mengarah ke luar terus dan lebih lanjut, bersinar sampai keseluruhan penjuru, kemudian bersinar ke keseluruhan negeri, dan keseluruhan dunia. Anda sebesar keseluruhan dunia dan cahaya mu pecah melalui semua kilauan dan kegelapan ke luar dalam tiap-tiap arah. Cahaya kebijaksanaan mu menyentuh semua ruang. Lanjutkan mengeluarkan orange menyalakan di tiap-tiap arah.
k. Meditasi Sukacita (Buddha menghargai: anak-anak mempelajari untuk memancarkan kegembiraan di sekitarnya)
Bayangkanlah suatu perasaan kegembiraan. Anda merasakan suatu terbuka dalam puncak kepalamu. Anda merasakan kegembiraan yang mengapung di dalam melalui terbukanya dalam puncak kepala mu.
Itu memenuhi kepala dan leher mu. Mengisi tangan dan bahumu. Kegembiraan mengapung ke dalam hatimu dan pikiranmu. Hatimu menjadi sangat penuh dengan kegembiraan. Kegembiraan mengapung masuk ke dalam perut dan punggungmu . Kemudian mengapung ke kaki-kakimu. Masing-masing bagian dari tubuhmu penuh kegembiraan.
Anda menjadi sangat penuh dengan kegembiraan, mulai untuk membentangkan tubuhmu. Membentangkan ke semua orang di dalam kelas. Menjangkau di luar kelas yang lebih jauh dan sampai menyebar keseluruh negeri. Membentang ke seluruh bumi, dan selanjutnya membentang ke dalam alam semesta dan planet, di luar bintang-bintang, dan lebih jauh. Keseluruhan alam semesta diisi dengan kegembiraanmu.
l. Meditasi Bunga (Nilai Buddha: Bunga indah dan segar hari ini akan menjadi buruk dan layul besok. Ini mengingatkan kita kepada pengajaran Buddha bahwa segala sesuatu tidak kekal)
Bayangkanlah anda adalah suatu bunga yang indah. Bunga seperti apa anda? Lihatlah warna dari daun bungamu. Hargailah bahwa anda kini bunga yang indah. Seseorang datang dan membeli anda dari toko bunga. Dia meletakkan anda ke dalam vas diisi dengan air. Anda dengan pelan-pelan menghisap air dan mekar dengan indahnya dibanding sebelumnya. Anda segar dan memancarkan keharuman. Seorang ibu meletakkan anda atas meja dan mempersembahkan anda kepada Buddha. Anda berdiri dengan indahnya dalam vas, membawa kebahagiaan dan kegembiraan masyarakat manakala mereka melihat anda.
Suatu hari telah lewat. Perlahan-lahan, warna daun bungamu menjadi layu.. Anda tidak lagi memancarkan keharuman. Daun bunga mu menjadi layu dan berguguran. Anda buruk dan memudar.
Walaupun anda adalah bunga yang sudah layu, anda masih bahagia dalam pikiran mu. Anda mengetahui bahwa anda mempunyai sebuah peran yang penting untuk dipegang. Peran mu adalah untuk mengingatkan orang ajaran Buddha bahwa segala sesuatu tidak tetap. Segala sesuatu secara konstan terus perubahan. Tubuh semua orang juga, seperti layu dan meninggal. Semua orang perlu mengingat-ingat sifat tak tahan lama dan hidup pada masa yang akan datang..
m. Meditasi Air (Nilai Buddha: air simbol kemurnian, ketenangan, kejelasan, dan mengingatkan kita untuk membersihkan pikiran dan mencapai kemurnian)
Bayangkanlah bahwa anda bagaikan air bersih murni. Seseorang datang dan dengan lemah-lembut meletakkan anda ke dalam suatu mangkuk yang kecil. Kemudian mempersembahkan anda kepada Buddha.
Anda beristirahat dengan gembira dalam mangkuk mengetahui, anda mempunyai sebuah peran yang penting untuk dipegang. Anda simbol kemurnian, ketenangan, dan kejelasan. Anda mengingatkan orang untuk berlatih Ajaran Buddha, secara konstan pembersih pikiran mereka.
Air digunakan untuk membersihkan kotoran. Ketika seseorang melihat anda, mereka bahagia dan penuh kegembiraan. Ini disebab mereka diingatkan untuk mencuci kotoran dari pikiran. Mereka perlu membersihkan pikiran kejam, egois, dan bersih serta murni seperti anda.
Buddha adalah seseorang membebaskan diri dari kekotoran seperti keinginan, ketidak-tahuan, dan sakit hati. Kita semua hendaknya seperti Buddha, tidak mempunyai kekotoran, tetapi hanya kemurnian pikiran.
n. Meditasi Relaksasi Air Terjun (Anak-Anak mempelajari relax sebelum meditasi)
Air terjun dengan cahaya putih indah mengalir ke anda. Mengalir dari atas kepala mu, membantu kepala mu menjadi relaks. Anda rasakan kepalamu relaks. Kemudian air bergerak melewati leher dan di atas bahu. Bahu dan lehermu sedang relaks. Sekarang arus menurun di leganmu. Anda rasakan lenganmu relaks. Mengalir ke punggung bawah. Punggungmu biarkan kendor dan relaks. Mengalir di atas dada dan perutmu, membantu dada dan perutmu relaks. Anda merasakan dada dan perutmu relaks. Kemudian bergerak menurun ke paha dan kakimu. Anda rasakan paha dan kakimu semakin kendor dan relaks. Air terjun cahaya putih indah mengalir di atas tubuhmu. Anda sangat tenang dan relaks.
o. Memancarkan Cinta Kasih
Bagaimana melakukan praktek cinta kasih. Aku minta mereka untuk menutup mata mereka dan rileks. Saya memandu mereka memperhatikan dan mengamati tubuh mereka, memperhatikan sensasi pada saat berbaring. Kemudian, mereka berpikir bersama dan mengikuti apa yang aku katakan sebagai berikut:
Pancarkanlah cinta kasih pada diri sendiri
Cintailah dirimu sendiri.
Anda inginkan bahagia.
Berpikirlah:
Aku mencintai diriku.
Semoga aku tebebas dari kemarahan.
Semoga aku bebas dari kesedihan.
Semoga aku bebas dari sakit.
Semoga aku bebas dari berbagai kesulitan.
Semoga aku bebas dari semua penderitaan.
Semoga aku selalu sehat.
Semoga badanku selalu sehat dan kuat.
Semoga aku dilimpahi dengan cinta kasih.
Semoga aku berbahagia.
Semoga aku benar-benar berbahagia.
Semoga aku selalu damai.
Aku pancarkan cinta kasih ke luar.
Aku pancarkan rasa cinta pada ayah dan ibu.
Semoga ayah dan ibu bebas dari berbagai kesulitan.
Semoga mereka bebas dari kesedihan dan sakit.
Semoga mereka bebas dari belenggu,
Terbebas dari sakit hati dan kemarahan.
Semoga mereka bebas dari semua penderitaan.
Semoga ayah dan ibu sehat dan bahagia.
Tetap sehat dan ahagia
Semoga mereka selalu damai.
Aku pancarkan cinta kasih bagi kedua saudara laki-laki.
Semoga mereka bebas dari kemarahan dan kesedihan.
Semoga mereka bebas dari penyakit.
Semoga mereka bebas dari semua penderitaan.
Semoga mereka bebas dan bahagia.
Bebas dari penderitaan, bebas dari berbagai kesulitan.
Semoga mereka tetap bahagia.
Semoga mereka selalu damai.
Aku pancarkan cinta kasih bagi kepada guruku dan anak-anak di sekolah.
Semoga mereka bebas dari duka cita dan penderitaan.
Semoga mereka bebas dari berbagai kesulitan dan kemarahan.
Semoga mereka bahagia.
bebas dari semua kesedihan dan berbagai kesulitan.
Semoga mereka benar-benar bahagia.
Semoga mereka selalu damai.
Aku pancarkan cinta kasih bagi bagi semua orang
Aku tidak tahu di mana-mana diatas bumi ini.
Semoga semua mahluk pada planet bebas dari penderitaan.
Semoga mereka bebas dari sakit, duka cita, dan keputus-asaan.
Semoga mereka bahagia, benar-benar bahagia.
Semoga mereka damai.
Semoga semua mahluk dalam alam semesta bebas dari penderitaan.
Semoga semua mahluk dalam semua alam semesta, dimanapun, bebas dari penderitaan.
Semoga mereka benar-benar bahagia.
Semoga mereka selalu damai.
Semoga semua mahluk dalam segala bentuk, di segala jurusan bahagia dan damai.
Di atas dan di bawah, dekat dan jauh, di segala tempat; di mana-mana.
Semua jenis mahluk, Manusia dan bukan manusia terlihat dan tak terlihat
Semua binatang, burung-burung dan ikan.
Semua makhluk tanpa kecuali
Semoga mereka semua bahagia.
Semoga mereka terbebas.
Aku membuka hatiku dan menerima cinta kasih yang tulus
Tiap-tiap penjadian dan kelahiran kembali.
Aku biarkan cinta masuk dalam jiwaku.
Dan aku membagi bersama keuntungan meditasi ini kepada tiap orang.
Semoga semua mahluk bahagia.
Semoga semua mahluk bahagia.
Semoga semua mahluk bahagia.
Semoga disana damai.
Semoga disana damai.
Semoga disana damai.
E. Penutup
Buddhisme memandang kepribadian bersifat impersonal dalam arti ditelaah sampai sisi terdalam. Filsafat Buddha banyak berbicara dalam tataran hakikat (ontologi) sehingga watak-watak atau tingkah laku manusia sebagai cerminan kepribadiannya dianalisis sampai detail. Analisa yang mendalam bermuara pada konsep bahwa kepribadian yang dimaksud dalam agama Buddha berasal dari suatu agregat tanpa entitas tunggal dan dapat berdiri sendiri. Kepribadian cenderung berasal dari kompleksitas hukum saling-bergantungan (interaksi interdependensi) antara indera dan obyek.
Rekasi fisik dan psikis manusia secara terus menerus terhadap berbagai fenomena akan membentuk tipe-tipe kepribadian yang disebut watak utama yaitu: (a) raga carita, adalah kecenderungan melekati terhadap obyek menyenangkan, (b) dosa carita adalah kecenderungan pemarah dan kebencian yang tanpa alasan, (c) moha carita adalah watak ketidaktahuan terhadap segala sesuatu termasuk harta dunia, (d) vitakka carita adalah watak kekhawatiran atau pikiran yang tidak terkendalikan, (e) saddha carita adalah watak yang mudah percaya, (f) bodhi carita adalah watak kecerdasan.
Pada hakekatnya manusia berpotensi untuk menentukan dirinya sendiri mencapai kemajuan bagi perkembangan dirinya. Berbagai watak dapat dikembangkan melalui meditasi ketenangan dan pandangan terang. Hasil dari meditasi adalah pemahaman diri dan situasi lingkungan secara tepat sehingga reksi terhadap berbagai fenomena akan menghasilkan ketepatan tindakan. Ketepatan dalam mengambil tindakan adalah ciri dari berkembangnya kepribadian seseorang.
Daftar Rujukkan
Umum
Boehme, Gernot. 2000. Bildung als widerstand. Jerman.
Fauroux. 1997. Das scheitern der schule. Jerman.
Hall, Calvin dan Gardner Linzdey. 1993. Teori-teori Holistik (Organismik Fenomenologi). Terjemahan Supratiknya. Yogyakarta: Kanisius
Hurlock, Alizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Narada 1998. Sang Buddha dan Ajaran-ajaranya 2 Jakarta : Yayasan Dhammadipa Arama.
Nissanka, H.S.S. 2002. Buddhist Psichotherapy. New Delhi : Vikas Publishing House PVT LTD.
Silva. 1990. Buddhist psychology: A review of theory and practice. London : Current Psychology.
Sindhunata (ed). 2000. Menggagas paradigma baru pendidikan. Yogyakarta : Kanisius.
Sivaraksa, Sulak. 2001. Benih Perdamaian. Diterjemahkan oleh Ken Ken. Jakarta .
Tirtarahardja, umar dan La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Asdi Mahasatya.
Wijaya Mukti, Krisnanda. 2003. Wacana Buddha Dhamma. Jakarta : Yayasan Dharma Pembangunan dan Ekayana Buddhist Center .
Kanonikal
Anguttara Nikaya I (The book of the Gradual Sayings). 1972-1978. Translated by F.L.Woodward and E.M.Hare. London : The Pali Text Society.
Anguttara Nikaya III (The book of the Gradual Sayings).1978. Translated by F.L.Woodward and E.M.Hare. London : The Pali Text Society.
Anguttara Nikaya IV (The book of the Gradual Sayings).1980. Translated by F.L.Woodward and E.M.Hare. London : The Pali Text Society.
Dhammapada (Sabda-sabda Buddha Gautama). 1989. terjemahan oleh Tirtasanti. Jakarta: Yayasan Penerbit Karaniya.
Dhamasangani (Psychological Ethics). 1974. Translated by Rhys Davids and Caroline. London and Boston : The Pali Text Society.
Digha Nikaya I (Dialogues Of The Buddha). 1976. Translated by T.W and C.A.F. Rhys Davids. London : The Pali Text Society.
Digha Nikaya II (Dialogues Of The Buddha). 1977. Translated by T.W and C.A.F. Rhys Davids. London : The Pali Text Society.
Digha Nikaya III (Dialogues Of The Buddha). 1978. Translated by T.W and C.A.F. Rhys Davids. London : The Pali Text Society.
Majjhima Nikaya I (The Middle Length Sayings). 1975-1977. Translated by I.B.Horner. London : The Pali Text Society.
Majjhima Nikaya III (The Middle Length Sayings). 1977. Translated by I.B.Horner. London : The Pali Text Soci
Samyutta NikayaII (The Book Of The Kindred Sayings).1975-1982. Translated by C.A.F.Rhys Davids and F.L. Woodward. London : The Pali Text Society.
Samyutta Nikaya III (The Book Of The Kindred Sayings).1975-1982. Translated by C.A.F.Rhys Davids and F.L. Woodward. London : The Pali Text Society.
Samyutta Nikaya IV (The Book Of The Kindred Sayings).1975-1982. Translated by C.A.F.Rhys Davids and F.L. Woodward. London : The Pali Text Society.
Sutta Nipata. 1990. Translated by Anderson and Smith. Oxford : The Pali Text Society.
Vibhanga Athakattha 1988. Translated by Pathamakyaw Ashin Thittila (Setthila). Oxford : Pali Text society.
Vinaya Pitaka (The Book Of Discipline). 1988. Translated by C.A.F.Rhys Davids and F.L. Woodward. London : The Pali Text Society.
Visuddhimagga of Buddhaghosa. 1975. Translated by Rhys Davids. London :The Pali Text Society
[1] Disampaiakan pada Kegiatan Sosialisasi Peningkatan Pengelolaan Sekolah Bercirikan Buddhis Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Depag RI, tanggal 14 Maret 2008 di Wisma Haji Jakarta Pusat.
Komentar