Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Menuju Keluarga Bahagia Dari Sudut Pandang Agama Buddha
PENGHAPUSAN
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
MENUJU
KELUARGA BAHAGIA DARI SUDUT PANDANG AGAMA BUDDHA[1]
Oleh: Partono Nyanasuryanadi
A.
Pendahuluan
Daniel Gobey (2004) mengatakan pada awal 1960-an,
banyak orang yakini kebenaran gagasan Konrad Lorenz, seorang ethiolog (pakar
"psikologi" binatang) asal Jerman, yang menyebutkan bahwa kekerasan,
tak ubahnya rasa lapar, adalah naluri manusia sebagai bagian dari kodratnya
yang jasmaniah. Di dasawarsa berikutnya, tahun 1970-an, orang lebih menaruh
perhatian pada apa yang kemudian dinamai sebagi "lingkaran setan"
kekerasan.
Menurut mereka, kekerasan
seolah telah mengental lebih dari sekedar naluri yang nature, dan menjadi
culture, budaya kekerasan. Kalau pengamatan itu benar, artinya perlahan-lahan
hubungan antar-manusia di abad ini tak hanya mengalami eskalasi kekerasan
secara akumulatif, tapi juga sofistikasi, pencanggihan, kekerasan. Meminjam
pengalaman pahit masyarakat miskin Amerika Selatan, Dom Helder Camara,
memfatwakan betapa suatu kekerasan tak pernah berdiri sendiri. Ia lahir
menyusul, dan menjadi rantai fantasi berikutnya dari kekerasan-kekerasan
terdahulu yang telah berjalin-kelindan. Awalnya kekerasan lahir dibidani oleh
egoisme para penguasa dan kelompok-kelompok yang rakus.
Diskusi masalah keluarga
merupakan topik yang unik dan menarik dalam sejarah kehidupan manusia. Meskipun
umat Buddha bebas untuk memilih cara hidup. Terdapat dua cara menempuh
kehidupan yang tidak sama, yaitu kehidupan seorang perumah tangga dan kehidupan
orang yang tidak memiliki ikatan keduniawian (Sn.220). Banyak orang yang berpendapat bahwa tujuan dari
perkawinan adalah mencapai kebahagiaan. Tentunya kebahagiaan yang dimaksud
bersifat duniawi, karena kebahagiaan sebagai salah satu aspek kehidupan akan
selalu ditandai oleh fenomena penderitaan. Kebahagiaan tertinggi yakni Nirvana,
ditandai oleh padamnya hawa nafsu, termasuk nafsu seks. Tetapi mereka yang
kawin tidak kehilangan kesempatan untuk rneraih tingkat kesuciam.
Kebahagian dan
keharmonisan dalam kehidupan keluarga adalah sasaran yang dicari-cari dan
didambakan oleh setiap keluarga. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dambaan
tersebut hanya dapat dicapai oleh sebagian kecil dari kehidupan keluarga. Ada
yang beranggapan bahwa memiliki kekayaan berlimpah, keharmonisan dan
kebahagiaan keluarga dapat ditemukan. Keharmonisan keluarga bukan mutlak
ditentukan oleh banyak sedikitnya kekayaan yang dimiliki. Ada yang beranggapan,
dengan cinta, tidak ada yang perlu disesali. Memang cinta dapat membuat orang
terpesona, namun tidak bisa dipungkiri bahwa cinta dapat pula membuat orang
menderita. Ada pula yang beranggapan bahwa kekuasaan, orang berbuat apa saja
yang diinginkan. Padahal kekuasaan paling mudah merusak akal budi dan
menjerumuskan manusia.
Paul Pearsall (1997)
menulis sebuah buku ‘rahasia kekuatan keluarga’, mengilustrasikan kekuatan
hidup keluarga untuk memperkokoh, membangkitkan, dan menyembuhkan. Pada
hakekatnya semua manusia mendambakan kehidupan keluarga yang harmonis.
Masing-masing individu mempunyai rumusan tentang kehidupan keluarga yang
harmonis tidak sama, dimana batasan atau kecenderungan setiap individu
berbeda-beda. Begitu pula ajaran agama memberikan rumusan dan cara untuk
merealisasikan kehidupan keluarga yang harmonis dengan uraian dan metodenya
masing-masing.
B. Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Kekerasan pada dasamya
adalah semua bentuk perilaku baik verbal maupun non verbal yang dilakukan oleh
seseorang, kelompok, bahkan institusi terhadap seseorang dan institusi lainnya
yang berdampak negatif baik fisik maupun mental.
Perspektif gender, kekerasan
terhadap keluarga atau perempuan sebagai tindak kekerasan yang dialami oleh
anggota keluarga atau perempuan (fisik maupun non fisik) bersumber pada
ketimpangan gender dalam sistim dan struktur masyarakat. Analisis terhadap
kekerasan struktural ini menunjukkan tindak kekerasan yang dilakukan oleh
laki-laki terhadap perempuan sebagai ungkapan untuk mempertahankan dominasinya
yang sudah diatur oleh masyarakat yang mendominasi laki-laki.
Kekerasan adalah perbuatan
seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cidera atau matinya orang lain
atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain (Kamus Bahasa
Indonesia, 1990:425). Kekerasan fisik maupun psikis terhadap anggota memerlukan
perhatian mengingat kondisi perempuan yang lebih lemah dibandingkan laki-laki.
Tindak kekerasan terhadap perempuan terjadi karena ketimpangan hubungan
perempuan dengan laki-laki dalam struktur masyarakat yang mengakibatkan
terjadinya diskriminasi terhadap perempuan.
Bentuk-bentuk kekerasan
terhadap keluarga dapat berupa jasmani maupun mental dan dapat dilakukan secara
kekerasan dalam rumah tangga, masyarakat, tempat kerja dan lingkungan
keagamaan, contohnya: tindakan
kekerasan secara fisik, seksual dan psikologis terjadi di dalam keluarga
termasuk pemukulan, penyalah gunaan seksual pada perempuan masa kanak-kanak,
kekerasan yang berhubungan dengan mas kawin, perkosaan dalam perkawinan,
praktek-praktek kekejaman tradisional, penghinaan secara terus-menerus,
pembatasan yang berlebihan dan penggunaan alat-alat kontrasepsi tertentu.
Tindak kekerasan di tempat
kerja termasuk dalam pemaksaan waktu lembur, pemaksaan kerja dalam keadaan
sakit, perbudakan, penghapusan hak perempuan yang berkaitan dengan masalah
reproduksi, perdagangan seksual, perlakuan secara paksa, pelecehan seksual,
perlakuan sewenang-wenang, pelecehan yang melukai harga din perempuan serta
penntah-perintah melakukan pekerjaan-pekerjaan berbahaya tanpa alat bantu
keselamatan kerja.
Tindak kekerasan yang
terjadi di lingkungan agama termasuk dalam memanipulasi hubungan seksual
sebagai salah satu bentuk ibadah, diskriminasi tertentu terhadap
jabatan-jabatan keagamaan, larangan perceraian walaupun keadaan sangat
membahayakan perempuan, pelecehan seksual, perkosaan dan pembakaran diri dalam
keadaan hidup-hidup bagi perempuan yang ditinggal mati suaminya untuk membuktikan
kesetiaan.
Buddha memberikan nasehat
kepada umatnya supaya tidak melakukan kekerasan juga kepada binatang. "Jivaka,
membunuh binatang untuk dipersembahkan kepada Buddha, dan Gotama mengetahui
bahwa binatang itu dibunuh untuk dipersembahkan untuk beliau. Jivaka, daging
tersebut tidak boleh dimakan apabila: melihat, mendengar, dan mengetahui bahwa
hewan tersebut dibunuh untuk dipersembahkan untuknya, tidak boleh dimakan.
Tetapi, Jivaka, ada tiga syarat daging bersih, yaitu : tidak melihat, tidak
mendengar dan tidak mengetahui bahwa daging itu dipersembahkan untuknya (Tim
Penterjemah, 2000 : 94).
Buddha Dharma menolak sama
sekali tindak kekerasan, karena Buddha sangat menghargai kehidupan sekalipun
itu tumbuh-tumbuhan. Buddha tidak
merusak biji-bijian yang masih dapat tumbuh dan tidak mau merusak
tumbuh-tumbuhan. Tidak membunuh makhluk. Buddha menjauhkan diri dari membunuh
makhluk. la telah membuang alat pemukul dan pedang. la tidak melakukan kekerasan
karena cinta kasih, kasih sayang dan kebaikan kepada semua makhluk.
Buddha mengajarkan kepada
para siswanya untuk menghormati kaum perempuan. Janganlah bertindak kasar
kepada perempuan, cinta kasih kepada sesama adalah perbutan terpuji. Karena sosok
ibu anak-anak lahir ke dunia, ibu merawat dengan penuh cinta kasih dan kasih
sayang, supaya anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang baik. Menurut Buddha
dalam Maha Parinibbana Sutta : suatu negara yang menginginkan negara terus
maju, sejahtera, tidak ada tindak kekerasan atau penculikan maupun penahanan
terhadap perempuan atau gadis-gadis (D.II.16).
Karena kekerasan hanya akan menimbulkan kesengsaraan, pelaku kekerasan hatinya
tidak tentram, korban kekerasan akan merasa tersiksajasmani dan mentalnya.
Dunia berada dalam
cengkeraman keterikatan ketidaktahuan. Dan hanya dumadi kelihatan ada. Bagi
seorang bodoh, yang terjerat dalam ikatan oleh kemelekatan, dan terbungkus
dalam ketidaktahuan, dunia tampaknya kekal. Tetapi orang yang melihat tidak
akan mempunyai rintangan.
Dengan kesadaran, kita
mewaspadai apa yang sedang terjadi dalam tubuh kita, perasaan kita, pikiran
kita, dan di dunia, dengan demikian, kita akan menghindari untuk melakukan
perusakan, baik terhadap diri sendiri
maupun berbagai pihak lainnya. Kesadaran melindungi diri, keluarga, dan
masyarakat kita, disamping memastikan saat sekarang yang aman dan bahagia,
serta masa depan yang bahagia.
Dengan memupuk kedamaian di
dalam, kita membawa perdamaian ke masyarakat. Perdamaian tergantung pada diri
kita sendiri. Melatih kedamaian di dalam diri adalah mengurangi jumlah
peperangan antara perasaan ini dan itu, atau persepsi ini dan itu, setelah itu,
baru kita akan merasakan damai yang sesungguhnya dengan orang-orang lain,
termasuk para anggota keluarga kita sendiri.
Pertanyaannya
"Bagaimana mempraktikkan tanpa kekerasan jika seseorang menerobos masuk ke
rumah saudara, lalu mencoba menculik anak perempuan atau membunuh suamimu? Apa
yang seharusnya saudara lakukan? Haruskah saudara tetap bertindak tanpa kekerasan?"
Jawabannya tergantung pada keadaan diri
saudara. Jika saudara telah menyiapkan diri, saudara mungkin bisa bereaksi
dengan kalem dan cerdas, dengan cara
yang paling tanpa kekerasan yang dimungkinkan saat itu. Tetapi, untuk siap
bereaksi secara cerdas dan tanpa kekerasan, saudara harus melatih diri hingga
ke taraf yang tinggi. Mungkin ini bisa
membutuhkan 10 tahunan atau lebih lama lagi. Jika saudara menunggu hingga
datangnya krisis baru bertanya, mungkin terlambat sudah. Jawaban yang ini atau
yang itu bersifat superfisial. Di saat
yang krusial tersebut, walaupun saudara tahu bahwa tanpa kekerasan jauh lebih
baik dari kekerasan, namun, jika pengertian saudara sebatas intelek saja dan
bukan merupakan keseluruhan diri saudara sendiri, saudara tidak akan dapat
bertindak secara tanpa kekerasan. Ketakutan dan kemarahan akan mencegah saudara
untuk bertindak dengan cara yang paling tanpa kekerasan.
Energi cinta kasih ini
membawakan kita perasaan keamanan,
kesehatan, serta kegembiraan, dan perasaan
ini menjadi nyata di saat kita memutuskan untuk menerima dan melatih
sila pertama. Merasa berbelas kasih saja tidak cukup. Kita harus belajar untuk
mengekspresikannya. Itulah sebabnya mengapa cinta kasih harus jalan berbarengan
dengan pengertian. Pengertian dan insight
menunjukkan kita cara untuk bertindak.
Musuh kita yang sesungguhnya
adalah kealpaan. Jika kita memupuk
kesadaran setiap hari dan menyirami benih-benih perdamaian yang beraa di dalam
diri kita dan orang-orang yang berada di sekitar kita, kita menjadi hidup,
lalu, kita dapat menolong diri sendiri dan orang-orang lain untuk
merealisasi kedamaian dan kasih sayang.
Kehidupan teramat sangat
berharga, namun, dalam kehidupan sehari-hari, kita senantiasa terbawa oleh
kealpaan, kemarahan, dan kecemasan, tersesat ke masa lampau, tak mampu
menyentuh kehidupan di saat ini juga. Ketika kita benar-benar menjadi hidup,
apapun yang kita lakukan atau sentuh merupakan
keajaiban. Melatih kesadaran adalah kembali ke kehidupan di momen ini
juga.
Di kala orang-orang berbicara
tentang cinta, umumnya yang mereka maksudkan adalah cinta yang eksis antara
orang tua dan anak-anak, suami dan istri, para anggota keluarga, atau para
anggota dari suatu kasta atau negara. Karena sifat dasar cinta semacam itu
tergantung pada konsep 'aku' dan 'milikku', ia tetap terjerat di dalam
kemelekatan dan diskriminasi. Orang-orang hanya ingin mencintai orang tua
mereka, pasangan mereka, anak-anak mereka, sanak saudara mereka, dan rekan
setanah air mereka. Karena mereka terperangkap di dalam kemelekatan, mereka
takut akan terjadi berbagai kecelakaan yang dapat menimpa orang-orang yang
mereka cintai bahkan sebelum hal-hal seperti itu terjadi. Saat kecelakaan
semacam itu terjadi, mereka menderita sekali. Cinta yang berdasarkan
diskriminasi akan membiakkan prasangka.
Orang-orang menjadi tidak peduli atau bahkan bermusuhan dengan berbagai
pihak lain yang berada di luar lingkaran
cinta mereka. Kemelekatan dan diskriminasi adalah sumber-sumber penderitaan
bagi diri kita dan orang lain. Yang mulia, cinta yang didambakan setiap makhluk
hidup adalah cinta kasih dan kasih sayang. Maitri
adalah cinta yang memiliki kapasitas untuk membawa kebahagiaan bagi yang lain. Karuna adalah cinta yang memiliki kapasitas untuk menghilangkan
penderitaan makhluk lain. Maitri dan
karuna tidak menuntut sesuatu kembali. Cinta kasih dan kasih sayang tidak
dibatasi hanya kepada orang tua, pasangan, anak-anak, sanak keluarga, anggota
kasta, dan rekan setanah air seseorang saja. Maitri dan karuna meluas kepada semua orang dan semua makhluk. Di
dalam maitri dan karuna tak ada
diskriminasi, tak ada 'milikku' atau 'bukan milikku'. Dan karena tak ada
diskriminasi, tak ada kemelekatan, maitri
dan karuna membawa kebahagiaan dan menghilangkan penderitaan. Dengan cinta
kasih dan kasih sayang, kehidupan dipenuhi dengan kedamaian, kegembiraan, dan
kepuasan.
Biasanya, cinta mengandung
elemen diskriminasi, nafsu, dan kemelekatan. Menurut Bhante, cinta jenis ini
menimbulkan kecemasan, penderitaan, dan keputus-asaan. Bagaimana seseorang
dapat mencintai tanpa nafsu dan kemelekatan? Bagaimana aku menghindari
timbulnya kecemasan dan penderitaan dari cinta kasih yang kurasakan untuk anak-anakku?" Buddha menjawab, "Kita perlu melihat
sifat dasar cinta kita. Cinta kita seharusnya
membawa kedamaian dan kebahagiaan kepada mereka yang kita cintai. Jika
cinta kita didasarkan pada nafsu egois untuk memiliki orang-orang lain, kita
tak akan pernah dapat membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi mereka.
Sebaliknya, cinta kita akan membuat mereka merasa terperangkap. Cinta semacam
itu tak lebih dari sebuah penjara.
Menurut Jalan Pencerahan, cinta tak dapat eksis tanpa
adanya pengertian. Cinta adalah pengertian. Jika
tak dapat memahami, tak akan dapat mencintai. Suami dan istri yang tidak
saling memahami satu dengan lainnya, tak akan dapat mencintai satu sama
lainnya. Ketika mengerti, akan tahu bagaimana meringankan
penderitaan-penderitaan mereka dan bagaimana memenuhi aspirasi-aspirasi mereka.
Itulah cinta yang sejati.
Manakala setiap orang
menikmati kebahagiaan, kedamaian, dan kegembiraan, baginda sendiri akan tahu
kebahagiaan, kedamaian, dan kegembiraan. Itulah makna cinta menurut Jalan
Pencerahan. Kasih sayang adalah buah dari
pengertian. Melatih Jalan Pencerahan adalah untuk memahami wajah sejati
kehidupan. Wajah sejati tersebut adalah ketidak-kekalan. Segala sesuatu
tidaklah kekal dan tanpa diri yang terpisah.
C. Krisis Keluarga dan Ketahanan Keluarga
Setiap keluarga
menghadapi tekanan internal maupun ekstemal. perubahan sosial dan tekanan
ekonomi telah membuat orang lebih mengutamakan kekayaan dan sukses duniawi
dengan mengabaikan nilai-nilai tradisional. Kebanyakan orang termasuk anak-anak
tereks-pos dan terangsang dengan berbagai pengharapan, pola konsumsi yang
ditawarkan oleh dunia ikian, atau tuntutan menyesuaikan diri dengan pergaulan
modem. Ketika kesetiaan dan kerukunan tidak dapat dipertahankan, keluarga
retak (broken home). Tidak jarang luntur-nya cinta kasih menimbulkan
tindak kekerasan dalam keluarga, atau membawa penyakit menular seksual masuk ke
dalam rumah. Suami istri hidup berpisah, dan biasanya berakhir dengan
perceraian. Orang tua dikritik oleh anak-anak, dan timbul jurang antargenerasi.
Anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang terje-rumus dalam
pergaulan yang buruk, dan terlibat dalam berbagai ben-tuk kenakalan remaja atau
perbuatan antisosial. Ada yang minggat; menyalahgunakan narkotika, alkohol dan
zat adiktif lainnya; melakukan hubungan seks bebas, tawuran, dan tindak
kriminal.
Parabhava-sutta menyebutkan sejumlah penyebab
kemerosotan, antara lain senang bermain perempuan, tidak puas dengan istri sendiri,
cemburu, mabuk-mabukan, berjudi, menghamburkan kekayaan, memberi kekuasaan dan
percaya kepada perempuan atau laki-laki pe-mabuk dan pemboros. Dia yang cukup
mampu namun tidak menyokong orang-tuanya, atau memandang rendah handai-tolan
dan sanak keluarganya juga akan menghadapi kemerosotan (Sn. 106-112, 98,
104). Dalam Vasala-sutta, orang yang mempunyai hubungan gelap dengan
istri orang lain, yang tidak merawat ayah-ibunya yang sudah tua dan lemah, yang
menyerang atau memaki orang tua, mertua dan saudaranya disebut sebagai manusia
sampah (Sn.123-125).
"Keluarga berdiri
bersama-sama seperti sebuah hutan; sementa badai menumbangkan pohon yang
berdiri sendiri" (Ja.I.329). Petikan Kitab Suci ini memberi
inspirasi, mengenai ketahanan keluar&a dan krisis yang dihadapinya. Hutan
adalah kumpulan pohon yano tumbuh bersama-sama, dahan-dahannya saling
bergandengan, sehine-ga membuatnya kuat menghadapi badai. Berdiri bersama-sama seperti pohon-pohon, berarti
akar-akarnya berdesak-desakan, harus ber-bagi ruang dan cahaya matahari. Dalam
hal tertentu keadaan ini bisa jadi menimbulkan frustrasi bahkan menyakitkan.
Tetapi dengan me-nunjang keluarga, seseorang juga akan mendapat dukungan
mereka, dan itulah kekuatan bersama yang harus diperhitungkan.
Menghadapi suatu krisis,
setiap individu mampu bertahan, bahkan bertambah kemuliaannya, dengan memiliki
semangat, penuh kesa-daran, waspada, berhati-hati, terkendali, bersih
perbuatannya, hidup sesuai dengan Dharma (Dh. 24). Ketahanan mental
membuat seseorang dapat menolak atau mengatakan tidak terhadap apa yang
ter-cela. la kebal menghadapi segala kejahatan yang menular. Kata Buddha,
"Sungguh bahagia kita hidup tanpa penyakit di antara orang-orang yang
menderita penyakit" (Dh. 198). Penyakit mental dipan-dang lebih
buruk daripada penyakit jasmani.
Bagaimana kesetiaan dan
kesejahteraan materiil ataupun spiritual menjamin ketahanan suatu keluarga,
diungkapkan oleh Nakulamata yang menasihati suaminya agar tetap tenang walau
penyakitnya sa-ngat parah. la berjanji tidak akan mencari suami lain, ia
sanggup memelihara anak-anak dan rumah tangga dengan penghasilan dari mene-nun
kain katun dan wol, ia akan tetap mengunjungi Bhagawa dan anggota Sangha,
selalu mempertahankan kebajikan, menjaga kete-nangan batin, hidup sesuai dengan
ajaran Buddha. Hilang kekhawatir-an
yang membebani Nakulapita, suami, dan ia
sembuh dari penyakitnya. Buddha memberi pujian, kata-Nya, Nakulapita beruntung
memiliki istri yang baik (A.Ill.295-298).
Keluarga mana pun yang
bertahan lama di dunia ini, disebabkan oleh empat hal, atau salah satu di
antaranya. Apakah keempat hal itu? Keempat hal itu adalah mencari apa yang
telah hilang, memperbaiki apa yang telah rusak, makan dan minum tak berlebihan,
dan memberi i/ekuasaan kepada seorang perempuan atau laki-laki yang baik
moralnya" Kebalikannya akan membuat suatu keluarga mengalami kemunduran (A.II.249).
D. Kehidupan Keluarga Saling Melengkapi
Keluarga merupakan sekelompok
manusia yang terdiri dari suami, istri, anak-anak (bila ada) yang terikat atau
didahului dengan perkawinan. Pembentukan keluarga adalah berawal dari
perkawinan. Menurut Sri Dhammananda (1995) dalam A Happy Married Life A Buddhis Perspective dijelaskan bahwa
perkawinan persekutuan antara dua individu, yang diperkaya dan ditinggikan jika
perkawinan itu membolehkan kepribadian yang bersangkutan tumbuh. Perkawinan
hancur berantakan saat sekutu yang satu mencoba “menelan’ sekutu yang lain,
atau pun saat satu pihak menuntut kebebasan penuh.
Kehidupan keluarga baik
suami maupun istri hendaknya berpikir lebih mementingkan hubungan keluarga
daripada kepentingan masing-masing. Hubungan demikian merupakan pertalian dua
kepentingan dan pengorbanan dilakukan demi kepentingan kedua belah pihak.
Saling pengertianlah rasa aman dan puas dalam perkawinan dapat tercapai. Tak
ada jalan pintas kepada kebahagiaan dalam perkewinan. Tak ada dua orang anak
manusia yang bisa hidup bersama dalam hubungan emosional yang intim dalam waktu
yang lama, tanpa harus berhadaban dengan kesalahpahaman dan perselisihan yang
timbul dari waktu ke waktu. Pengertian dan toleransi dibutuhkan untuk mengatasi
perasaan cemburu, kemarahan, dan curiga.
Sukses dalam perkawinan
lebih didasarkan pada keharmonisan (keserasian) dari pada sekedar mencari
pasangan tepat. Kedua belah pihak terus-menerus berusaha menjadi orang yang
mempunyai sikap saling menghormati, mencintai, dan memperhatikan anggota
keluarga yang lain. Buddha bersabda “demikianlah perumah tangga, bila wanita
dan pria keduanya mengharapkan hidup bersama pada kehidupan sekorang dan
kehidupan yang akan datang, harus memiliki keyakinan yang sebanding, sila yang sebanding, kemurahan hati yang
sebanding, dan kebijaksanaan yang sebanding, maka akan hidup bersama pada
kehidupan sekorang dan pada kehidupan yang akan datang . . . Demikianlah di
dunia ini, hidup sesuai dengan petunjuk Dhamma, pasangan suami istri yang
sepadan kebaikannya, di alam dewa bersuka cita mencapai kebahagiaan yang di
idam-idamkan” (A. II.61).
Berdasarkan sabda Buddha,
dapat dirumuskan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin dari dua orang
yang berbeda jenis kelamin, yang hidup bersama untuk selamanya dengan melaksanakan
Dharma (termasuk vinaya). Apa yang disebut kebahagiaan dalam kehidupan sekorang
ataupun kehidupan yang akan datang menghendaki adanya keyakinan, sila,
kemurahan hati, dan kebijaksanaan yang sebanding. Tujuan dari perkawinan tiada
lain adalah saling melengkapi, saling mendukung, dan melindungi, sehingga
pasangan yang bersangkutan bersama-sama dapat mencapai kesempumaan yang
mendatangkan kebahagiaan. Lembaga perkawinan merupakan tempat untuk mengembangkan
kekuatan secara sinergis dari dua individu yang membentuk pasangan, membebaskannya
dari kesepian, kekhawatiran, ketakutan, kekurangan dan kelemahan.
Selain tujuan perkawinan
untuk membentuk rumah-tangga yang aman, damai, rukun dan sejahtera pada
kehidupan sekorang, juga masing-masing individu mengharapkan agar perkawinannya
dapat berlanjut hingga pada kehidupan yang berikut setelah dipisahkan oleh
kematian pada kehidupan sekorang.
Secara terperinci akan
dijelaskan empat hal yang harus sebanding dan sama-sama dimiliki oleh
suami-istri merupakan faktor yang dapat melestarikan cita-cita keluarga
bahagia, dijelaskan sebagai berikut:
Saddha atau keyakinan
dikatakan demikian apabila "ia percaya pada penerangan agung dan Buddha" (M.53). Namun keyakinan
ini harus "masuk akal dan
berdasarkan pada pengertian" (M.47), dengan demikian ia diharapkan
untuk menyelidiki dan menguji apa yang ia yakini (M.47-49). Sehubungan
dengan pengertian atau rumusan tentang keyakinan dalam Samyutta Nikaya XLVIII.45 dikatakan
"seorang yang memiliki pengertian, mendasarkan keyakinannya sesuai dengan
pengertian". Jelaslah bahwa saddha didasarkan pada pengertian, sehingga pengalaman (praktek), penalaran, dan pengetahuan
sangat menentukan tingkat
keyakinan dari yang bersangkutan.
Sila atau pelaksanaan
latihan peraturan moral. Sila
bukan peraturan lorangan, tetapi ajaran moral dengan tujuan agar umat Buddha
menyadari akan akibat yang baik bila
melaksanakannya dan akibat buruk bila tidak melaksanakannya. Seseorang adalah
bertanggung-jawab penuh pada setiap perbuatannya. Sehingga menurut Buddha
Dhamma, setiap individu harus bertindak dewasa dan bijaksana dalam perilakunya.
Pada kontek ini sila yang dimaksudkan adalah Pancasila Buddhis.
Mengenai tujuan dan
manfaat dari pelaksanaan sila, Buddha
menyatakan bahwa “sila menghasilkan kebebasan dari penyesalan, kebebasan dari
penyesalan membawa suka cita… kegiuran… ketenangan… kebahagiaan… pemusatan
batin … melihat dan mengetahui segala hal apa adanya… penolakkan dan surutnya
minat (pada hal-hal duniawi)… pembebasan sebagai tujuan akhir.. sila membawa
berangsur-angsur ke puncak pencapaian”.
Caga atau kemurahan hati, kedermawanan, kasih sayang yang dinyatakan
dalam bentuk pertolongan melalui perbuatan atau kata-kata, serta tanpa ada
perasaan bermusuhan dan iri hati, agar mahluk lain dapat hidup dengan tenang,
damai dan bahagia. Mengembangkan caga dalam batin harus sering mengembangkan
kasih sayangnya dengan menyatakan dalam batin "semoga semua mahluk
berbahagia, bebas dan penderitaan, ...
kebencian, ... kesakitan, ... dan
kesukaran. Semoga mereka dapat
mempertahankan kebahagiaan mereka
sendiri". Ia selalu memiliki kecenderungan batin untuk membahagiakan orang
lain, pada waktu ia menolong atau membantu orang lain ia akan merasa gembira
dan senang karena melihat orang yang ditolongnya bahagia.
Panna atau kebijaksanan adalah sebagai
hasil dari pengalaman, penalaran,
dari pengetahuan pribadi. Kebijaksanaan merupakan dasar dari perkembangan mental,
moral, spiritual, dan intelektual
seseorang. Panna muncul bukan hanya
didasarkan pada teori tetapi yang paling penting adalah pengalaman dalam
pengamalan ajaran Buddha. Secara ideal,
yang dimaksudkan dengan panna adalah
pengertian benar dari penembusan
tentang anicca (ketidak kekalan),
dukkha (sulit mempertahankan sesuatu karena sesuatu itu tidak kekal), dan
anatta (tanpa inti atau jiwa yang kekal)
sampai mencapai penerangan sempurna, dengan demikian ia
mencapai kesucian serta mengetahui bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah ada,
mutlak, dan tak dapat digambarkan atau
dipersamakan dengan apa pun.
Memiliki ke empat factor
kehidupan sebanding, sepasang suami istri mudah menyeberangi lautan hidup
berkeluarga yang penuh dengan suka dan duka serta tantangan. Kebijakan yang
sebanding, maka suami istri akan hidup dengan saling mengerti sehingga masalah
rumah tangga yang sedang dihadapi dapat dipecahkan bersama. Namun untuk
menemukan pasangan yang serasi se ia dan sekata adalah sukar sekali, temyata
banyak pasangan suami-istri memiliki sifat atau perangai yang tak sama. Dengan
kata lain perangai pasangan suami istri adalah berlainan satu dengan lainnya.
Terdapat empat macam
pasangan perkawinan, yaitu: (1) raksasa dan raksesi, suami istri merupakan
pasangan yang hina dan berkelakuan buruk; (2) raksasa dan dewi, suami
berkelakuan buruk sedang istri berbudi luhur atau berketakuan baik; (3) dewa
dan raksesi, suami yang berkelakuan baik hidup dengan istri yang buruk laku;
(4) dewa dan dewi, pasangan yang sama-sama mulia karena berkelakuan baik. Suduh
tentu pcrkawinan dewa dan dewi yang berbahagia, yang dipuji oleh Buddha (A.II.57-58). Perkawinan yang
dipertimbangkan matang-matang, direncanakan dan dipersiapkan dengan baik,
diharapkan membuahkan bentuk perkawinan dewa-dewi.
Buddha mengelompokkan para
istri menurut wataknya. Terdapat tujuh macam istri yakni (1) istri yang mirip
pembunuh, yang jahat pikirannya, kejam, melalaikan suami atau scrong; (2) istri
yang menyerupai perampok, yang mencuri atau menghamburkan pendapatan suami; (3)
istri gula-gula, yang rakus, penggunjing, cengeng dan membuat suami malas (4) istri yang menyerupai seorang ibu, yang
penuh kasih, merawat dan menjaga suaminya; (5) istri yang menyerupai saudara,
seperti adik yang memperlakukan kakaknya dengan hormat; (6) istri yang
menyerupai teman, kekasih pujaan yang penuh cinta; (7) istri yang mirip
pelayan, yang patuh, memikul beban dengan pasrah, bahkan tabah menghadapi
amarah suami. Tentu saja istri jenis pembunuh, perampok, dan gula-gula itu
tidak terhormat, tidak bermoral, sehingga membawa penderitaan (A.IV. 91). Gambaran mengenai istri,
sebaliknya pula dapat diberlakukan pada pria.
Karakteristik yang tak
terbina baik akan merugikan suaminya, bertingkah laku buruk, bermalas-malas,
menghindari suaminya di tempat tidur, patuh pada kata-kata orang lain,
menghambur-hamburkan kekayaan keluarga,
senang bergaul intim
dengan tetangga namun tidak
menghiraukan, menghormati suami, senang mendatangi tempat-tempat umum tanpa
disertai suami, atau mendatangi rumah kenalan atau handai taulan (sendiri),
memakai perhiasan pemberian orang lain, senang bermabuk-mabukan, dan berdiri di
pintu memandangi orang lain (Jt.V).
Sumber
lain mengisahkan, ketika seorang suami menderita sakit keras, istrinya
menghibur suaminya dengan mengatakan bahwa mati dengan hati gundah akan
berakibat tidak baik, dan bahwa bila ia meninggal, si istri mampu memelihara anak-anak
mereka dan meneruskan penghidupan keluarga. Ia menyatakan bahwa ia tak akan
menikah lagi, dan akan meningkatkan keyakinan terhadap Triratna, menjalankan sila, bermeditasi… dan
menjalankan rumah-tangga sesuai ajaran
Buddha. Ternyata kemudian suami sembuh kembali; dan ketika dilaporkannya
peristiwa itu kepada Buddha, beliau
bersabda: "... Sungguh beruntung engkau, orang
baik, engkau mempunyai istri yang
baik, menasihatimu, menjadi gurumu, dan
batinnya penuh kasih sayang serta hasrat yang
tulus untuk kesejahteraanmu...".
Beberapa
simpulan (1) melihat bahwa keakraban yang mendalam dalam hubungan suami-istri
berdasarkan pada penghayatan hidup yang berakar pada penghayatan moral. (2)
Menempuh kehidupan rumah-tangga nilai-nilai moral dan spiritual tidak boleh diletakkan dibelakang pertimbangan seksual atau
ekonomis. (3) Sekalipun suami merupakan
kepala dan tulang-punggung keluarga, istri pun harus
sanggup melakukan, dan memainkan peranan sosialnya sebagai istri
yang baik, yang idealnya telah
diuraikan di atas.
Kepada
gadis-gadis yang ingin berkeluarga,
Buddha mengajarkan kewajiban seorang istri yaitu: (1) istri harus bangun lebih dahulu dari
suami; dengan sukarela menolong.
suami; bertingkah laku menyenangkan dan
berbicara secara bersahabat; (2) menghormati orang-orang yang
dihormati oleh suami, seperti orang tua dan orang-orang suci,
menerimanya kalau mereka datang ke rumah; (3) terampil
dan cekatan dalam pekerjaan suami, mempelajari seluk-beluknya, dan mampu
mengatur, melaksanakan dan menyelesaikannya; (4) mampu mengolah rumah-tangga beserta
seluruh penghuninya, agar kebutuhan masing-masing terpenuhi atau setiap orang
mendapat sesuai dengan bagiannya; (5) dapat
mengamankan harta kekayaan dan pendapatan suami, dan tidak berbuat seperti
perampok, pencuri atau penggelap.
Sabda Buddha: "... Para istri yang memiliki sifat-sifat yang talah disebutkan akan memiliki kekuasaan dan keberhasilan di dunia ini, dan dunia berada dalam genggaman tangannya." (A.269). Mencermati uraian yang talah dijelaskan nampaknya cita-cita sosial Buddhis mengutamakan pria di atas wanita, bahwa pria lebih tinggi daripada wanita, dan dengan demikian menolak persamaan antara pria dan wanita. Sesungguhnya yang dipersoalkan tersebut bukanlah siapa yang lebih tinggi atau lebih randah, melainkan peran masing-masing dalam keluarga. Bahwa suami adalah kepala atau pemimpin keluarga jelas terlihat dalam masyarakat Buddhis maupun masyarakat lain. Namun masing-masing pihak tidak lepas dari hak, kewajiban dan tanggung-jawab masing-masing. Seorang istri yang baik disebut "devi", dan suami yang baik disebut "deva", dan bila mereka berdua memiliki panna (kebijaksanaan) yang sebanding seperti yang telah diuraikan di atas, maka niscaya bagi mereka tidak akan timbul perasaan bahwa suami lebih tinggi kedudukannya atau sebaliknya. Sebab dengan adanya panna maka saling mengerti dapat terbina dan keluarga yang rukun dapat dibentuk.
Mengenai suami, secara
umum Buddha mengatakan bahwa seorang
yang menyokong orang tua, istri dan anak, bekerja untuk kebaikan keluarga dan
masyarakat luas, dapat disebut sebagai "seorang yang baik dan
berharga". (S.I.228; A.IV.224). Kitab
Jataka disebutkan tentang delapan hal yang menyebabkan suami dibenci oleh
istrinya sendiri yaitu: miskin, sakit-sakitan, tua, bermabuk-mabuk, bodoh,
kurang perhatian, terlalu sibuk, dan menghambur-hamburkan uang. (Jt.V.433).
Secara positif para suami
dianjurkan untuk memelih arah istri mereka dengan cara bersikap manis,
menghormatinya, tidak membencinya, setia kepadanya, memberikan wewenang
kepadanya, menghadiahkan perhiasan dan lain-lain kepadanya; (D.III.l90). Selanjutnya,
suami harus berbicara ramah kepada istrinya; membantunya dalam segala
pekerjaan; membawanya mengunjungi
upacara dan pesta-pesta; mendorongnya untuk melakukan upacara-upacara
keagamaan; dan menasihatinya dalam hal kebaikkan. (Kh.138).
Mempertahankan
keutuhan rumah-tangga, sangat perlu adanya faktor saling percaya mempercayai,
karena apabila hal ini berkurang maka titik-titik permulaan keretakan akan
muncul dalam bentuk curiga mencurigai. Mencurigai adalah sifat mental yang
kurang baik, yang biasanya muncul karena kelemahannya sendiri sebab
ketidaktahuan atau kurang mengetahui persoalan yang dihadapi. Kemampuan yang
kurang ini, kemudian mendengar cerita orang lain tentang keadaan istri atau
suami atau mungkin karena melihat prilaku suami atau istri sendiri yang
mengakibatkan pikiran buruk terjadi.
Buddha menjelaskan sebab musabab dari curiga
dibahas dalam Anguttara Nikaya, sebagai berikut: (1) mencurigai seseorang
karena cinta kepadanya (chandagati), (2) mencurigai seseorang karena tidak senang atau membenci orang itu (dosagati), (3) mencurigai seseorang karena kebodohan atau ketidaktahuan
mengenai orang itu (mohagati), (4)
mencurigai seseorang karena merasa takut kepada orang itu (bhayagati).
Menurut Ajaran Buddha,
suatu keluarga seorang suami boleh
mengharapkan hal-hal berikut dari isterinya: cinta, perhatian, kewajiban
keluarga, kesetiaan, pengurusan anak, tabungan, penyediaan makanan, penghiburan
saat ia lagi kecewa, kemanisan sikap. Sebagai balasannya, seorang isteri
berhak mendapatkan hal-hal berikut dari suaminya: kelembutan, rasa hormat,
kesempatan bermasyarakat, keamanan, keadilan, kesetiaan, kejujuran,
persahabatan, dukungan moral. Selain
aspek-aspek emosional dan psikologis, pasangan suami-isteri mengatur keadaan
hidup sehari-hari, keuangan rumah-tangga, dan kewajiban-kewajiban sosial. Tukar
pikiran antara suami dan isteri mengenai semua persoalan rumah tangga akan
membantu menciptakan atmosfir rumah-tangga yang penuh pengertian dan saling
mempercayai, memecahkan persoalan apa saja yang mungkin tumbuh. Menjalani
hidup dengan apa adanya dan puas dengan apa yang ada, bisa dijadikan sebagai
salah satu alternatif jawaban, di samping: (1) Tidak membuat perbandingan dan
perhitungan dengan orang lain. (2) Tidak menyesali diri dan menyalahkan orang
lain. (3) Tidak mencelakai orang lain dan mencari-cari alasan demi pembenaran
diri. (4) Tidak tamak, tidak dengki dan iri. (5) Tidak rendah diri dan tidak
mudah berputus asa, caranya dengan
berfikir positif tentang diri sendiri dengan langkah-langkah (a) Tanamkan pada
diri sendiri bahwa diri sendiri orang yang paling bahagia di dunia ini. (b)
Tanamkan pada diri sendiri bahwa diri sendiri orang yang sempurna. (c) Tanamkan
pada diri sendiri bahwa diri sendiri orang yang berkecukupan. (d) Tanamkan juga
bahwa kita "the best person in this world". (6) Tidak mempunyai prasangka dan berhati lurus.
E. Nasihat Buddha untuk Keluarga
1. Isteri
Saat memberikan nasihat kepada seorang wanita berkenaan dengan peranannya dalam keluarga, Buddha menyatakan bahwa kedamaian dan keharmonisan keluarga lebih banyak tergantung pada isteri. Nasihat yang diberikanNya sungguh realistis dan praktis, berupa sejumlah perilaku sehari-hari yang pantas dan tidak pantas dilakukan oleh seorang isteri, yaitu:(1) tidak menumbuhkan pikiran-pikiran yang kurang baik tentang suaminya; (2) tidak bersikap kasar, kejam dan menguasai; (3) tidak boros, sebaliknya harus hemat dan hidup sewajarnya.(4) menjaga dan menyimpan hasil kerja keras dan harta suaminya; (5) selalu memberikan perhatian serta pertimbangan dalam berpikir dan berbuat; (6) setia dan tidak menumbuhkan pikiran-pikiran yang menghantar ke penye-lewengan; (7) halus dalam tutur kata dan santun dalam tingkah laku; (8) penuh kasih sayang, rajin, dan kerja sungguh-sungguh; (9) penuh perhatian dan belas-kasih kepada suaminya dan sikapnya mesti setara dengan cinta kasih seorang ibu terhadap anak satu-satunya; (10) rendah hati dan penuh rasa hormat; (11) sejuk, tenang dan penuh pengertian melayani tidak hanya sebagai isteri tetapi juga sebagai seorang teman dan penasihat, saat diperlukan.
Padahal dijaman itu guru-guru religius yang lain lebih menekankan tugas seorang isteri sebagai pemberi keturunan bagi suaminya, melayani dengan tulus, dan membahagiakan suaminya. Pada masyarakat tertentu, kelahiran seorang anak laki-laki sangat dipentingkan. Ada kepercayaan bahwa seorang anak lelaki diperlukan untuk memimpin upacara kematian orang tuanya, supaya kehidupan mereka di alam selanjutnya menjadi lebih baik. Kegagalan untuk memperoleh anak laki-laki dari isteri pertama, memberikan kebebasan kepada seorang laki-laki untuk mengambil isteri lagi. Agama Buddha menolak kepercayaan seperti itu.
Perlakuan yang diterimanya
dari seorang suami yang baik, berdasarkan Sigalovada Sutta seorang isteri yang
mencintai suaminya mempunyai kewajiban sebagai berikut: (1) melakukan semua
tugas kewajibannya dengan baik, (2) bersikap ramah kepada keluarga dad kedua
belah pihak, (3) setiap kepada suaminya, (4) menjaga baik-baik borang-borang
yang dibawa oleh suaminya, (5) pandai dan rajin dalam melaksanakan semua
pekerjaannya (D.III.190).
Ketika Visaka ingin menikah,
ayahnya memberikan nasehat sebagai berikut (Dhammapada Atthakatha, Buddhist Legends jilid II.72-73): (1)
Jangan membawa keluar api yang berada di dalam rumah. (2) jangan memasukkan api
dari luar ke dalam rumah, (3) memberi hanya kepada mereka yang memberi, (4)
jangan memberi kepada mereka yang tidak memberi, (5) memberi kepada mereka yang
memberi dan tidak memberi, (6) duduk dengan bahagia, (7) makan dengan bahagia,
(8) tidur dengan babagia, (9) rawatlah api dalam rumah, (10) hormatilah dewata
keluarga.
Menurut apa yang diajarkan
Buddha sebagai Hukum Karma, seseorang bertanggung-jawab atas tindakannya
sendiri. Apakah yang dilahirkan itu seorang anak laki-laki atau seorang anak perempuan tidak ditentukan oleh (calon)
ayah atau ibunya, tetapi oleh karma dari (calon) anak tersebut. Kehidupan selanjutnya
dari seorang kakek atau ayah tidak ditentukan oleh anak cucu.
Masing-masing bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri.
Jadi,
sungguh bodoh jika seorang pria menyalahkan isterinya atau merasa belum lengkap
kalau belum mendapatkan seorang anak laki-laki. Ajaran Buddha menolong orang
mernperbaiki pandangan salah, dan dengan sendirinya mengurangi kesengsaraan
kaum wanita yang tidak melahirkan anak lelaki. Buddha telah mengemukakan
gagasan yang begitu modern. Selain kewajiban seorang isteri, dengan jelas
Beliau juga menjelaskan kewajiban-kewajiban seorang suami terhadap isterinya.
2. Suami
Suami sebagai kepala keluarga wajib memiliki penghasilan yang secukupnya agar dapat memenuhi segala kebutuhan keluarganya. Ia wajib membahagiakan anak dan isterinya di samping menyokong dan merawat kedua orang tuanya yang masih hidup. Kepada orang tua dan leluhur yang sudah meninggal maka ia wajib melakukan Pattidana (Melakukan perbuatan-perbuatan jasa yang kemudian dmlimpahkan kepada para almarhum tersebut).
Agar seorang suami tidak
dibenci oleh isterinya maka ia wajib rajin bekerja agar tidak jatuh miskin,
wajib memelihara kesehatan agar tidak sakit-sakitan, wajib menghindarkan
minuman keras agar tidak mabuk-mabukan, wajib banyak belajar agar tidak bodoh,
wajib bersikap telaten dan perduli agar tidak mengabaikan isterinya, jangan
terlalu sibuk dan dapat membagi waktunya untuk isteri, wajib berhemat dan
tidak menghambur-hamburkan uang (Jt.V.433)
Buddha menjawab pertanyaan
bagaimana seharusnya seorang suami memperlakukan isterinya menyatakan bahwa
seorang suami harus menghargai dan
menaruh hormat pada isterinya, dengan menjaga kesetiaannya, dengan memberi
isterinya keleluasaan dalam mengatur urusan rumah-tangga, dan dengan memberinya
segala kebutuhan yang diperlukan.
Sifat laki-laki untuk
meletakkan dirinya lebih tinggi dari pada wanita. Mengetahui hal ini, Buddha
memelopori perubahan radikal dan mengangkat harkat wanita dengan anjuran
sederhana yaitu para suami hendaknya menghormati dan menghargai isteri mereka.
Bersikap lemah lembut terhadap isterinya. Seorang suami harus setia kepada
isterinya. Memberikan kekuasaan tertentu kepada isterinya. Memberikan atau
menghadiahkan perhiasan kepada isterinya (D.III.190). Artinya ia mesti memenuhi dan
menjalankan kewajibannya terhadap isteri, di dalam kehidupan berumah-tangga. Hanya dengan cara demikian, kebersamaan di
dalam perkawinan dapat dipertahankan.
Kepala keluarga wajib
memiliki (1) kejujuran dan selalu menepati janji kepada orang lain (sacca), (2) pengendalian pikiran yang
baik (dama), (3) kesabaran dalam menghadapi
setiap persoalan sulit (khanti), (4)
kemurahan hati terhadap mereka yang pantas untuk diberi (caga)(S.I.215).
F. Tanggung Jawab dan Kewajiban Keluarga
Tugas seorang ibu
adalah mengasihi, memperhatikan, dan melindungi anaknya, sekali pun dengan akibat-akibat
yang sangat buruk. Umat Buddha mengikuti ajaran bahwa orang tua mesti memberi
perhatian kepada anaknya seperti bumi mengasihi semua tanaman dan binatang.
Orang tua
bertanggung-jawab untuk merawat dan membesarkan anak-anak mereka. Anak yang
tumbuh menjadi kuat, sehat, dan berguna bagi masyarakat, merupakan hasil dari
usaha orang tua. Anak tumbuh menjadi penjahat, orang tualah yang harus
bertanggung-jawab. Tugas
orang tua untuk menuntun anak-anaknya ke jalan yang benar. Seorang anak pada
usianya yang muda, paling mudah terpengaruh, memerlukan cinta yang lembut, dan
perhatian dari orang tuanya. Tanpa kasih-sayang dan petunjuk orang tua, anak
akan menghadapi banyak rintangan, dan melihat dunia ini sebagai tempat yang
ruwet untuk ditinggali.
Melimpahkan kasih-sayang dan
perhatian tidak berarti mengikuti semua keinginan anak, yang masuk akal sekali
pun. Terlalu mengikuti kehendaknya akan merusak anak. Seorang ibu yang
mengasihi anaknya, juga harus tegas dan ketat dalam menghadapi sikap melawan
dari anaknya, namun tidak berarti bersikap kasar. Tunjukkanlah kasih sayang,
tetapi poleslah dengan disiplin niscaya anak-anak akan mengerti. Sayangnya,
orang tua masa kini kasih-sayang yang diberikan semakin memudar. Kegilaan pada
harta, gerakan feminisme dan emansipasi telah menyebabkan banyak ibu yang
mengikuti jejak suaminya, menghabiskan waktu kerjanya di kantor dan pertokoan,
bukan tinggal di rumah membina anak-anak.
Anak-anak yang diasuh oleh
kerabat atau pengasuh, menjadi asing terhadap kasih sayang ibu yang lembut dan
penuh perhatian. Orang tua merasa bersalah, kemudian berusaha menentramkan
anaknya dengan cara memenuhi segala permintaannya. Memberi anak-anak segala
macam mainan, seperti tank, senapan mesin, pistol, pedang dan sejenisnya
sebagai pelarian, tidaklah baik secara psikologis.
Mainan-mainan seperti itu
tidak akan dapat menggantikan kasih seorang ibu yang penuh kelembutan dan
kehangatan. Tanpa cinta dan nasihat orang tua, tidaklah mengherankan jika anak
tumbuh menjadi berandal. Siapa yang harus disalahkan?
Orang tua yang bekerja,
khususnya setelah kerja seharian yang melelahkan di kantor dan masih harus membereskan pekerjaan rumah
tangganya, tentu saja sulit menyediakan waktu untuk anak-anaknya yang haus
kasih-sayang dan perhatian. Orang tua demikian seharusnya tidak mengeluh jika
kemudian anak-anaknya juga bersikap acuh.
Orang tua yang mengaku telah
mengeluarkan banyak uang bagi anak-anak mereka tetapi terlalu sibuk untuk
memberi perhatian, seharusnya juga tidak menyesal, saat anak-anak mereka yang 'sibuk'
pada gilirannya lalu menempatkan mereka di rumah jompo mewah. Buddha
memberikan sejumlah kewajiban dan tugas utama yang harus diperhatikan oleh para
orang tua. Salah satunya adalah sikap dan tindakan untuk menjauhkan anak dari
perbuatan yang tidak baik. Hubungannya dengan hal ini, orang tua harus
memberikan perhatian yang sangat besar bagi anak-anaknya. Bukan apa yang
dikatakan, tetapi apa yang dilakukan orang tua, yang akan diserap oleh
anak-anak dengan polos dan tanpa disadari. Mengikuti kaidah demikian, kebaikan
menghasilkan yang baik dan keburukan membawa yang buruk. Pada saatnya anak-anak
terjun ke masyarakat, tetap membawa sifat-sifat yang dipelajari dari perilaku
orang tuanya.
Kewajiban
orang tua adalah untuk menyejahterakan anak-anaknya. Sesungguhnya orang tua
yang penuh tanggung-jawab dan kasih sayang akan memikul tanggung jawab dengan
senang hati. Memimpin anak ke jalan yang
benar, orang tua pertama-tama memberi contoh dengan menjalankan hidup yang benar.
Tidak mungkin mengharapkan anak yang baik namun orang tua tak bermartabat. Di
samping hasil karma dari kehidupan masa lampau yang dibawa oleh seorang anak,
mereka juga akan mewarisi sifat-sifat baik dan jelek dari orang tuanya. Orang
tua yang bertanggung-jawab selayaknya membuat pencegahan dimana dibutuhkan
untuk tidak menularkan hal-hal yang tidak diinginkan kepada keturunannya.
Sesuai
dengan Sigalovada Sutta (D.III.189)
orang tua mempunyai kewajiban terhadap anaknya yaitu (1) mencegah anak berbuat
jahat, (2) menganjurkan anak berbuat baik, (3) memberikan pendidikan
profesional kepada anak, (4) mencarikan pasangan yang sesuai untuk anak, (5)
menyerahkan harta warisan kepada anak pada saat yang tepat.
Kewajiban
pertama adalah mencegah anak berbuat jahat. Rumah adalah sekolah pertama, dan
orang tua sebagai guru yang pertama bagi anak-anak. Anak-anak umumnya
memperoleh pelajaran pertama tentang hal baik dan buruk dari orang tuanya.
Orang tua yang ceroboh, langsung atau tidak langsung, akan mengajarkan kepada
anak-anak dasar-dasar berbohong, menipu, bersikap tidak jujur, memfitnah,
membalas dendam, tidak tahu malu, dan tidak takut melakukan perbuatan tidak
baik dan amoral.
Orang
tua hendaknya menunjukkan tingkah-laku yang patut diteladani dan tidak
seharusnya menurunkan sifat-sifat buruk ke dalam pikiran
anak-anak mereka yang rnasih
sangat gampang terpengaruh. Kewajiban
kedua adalah menganjurkan anak berbuat baik. Orang tua adalah guru di rumah,
guru adalah orang tua di sekolah. Baik orang tua man pun guru bertanggung-jawab
atas masa depan bagi anak-anak, yang akan menjadi sebagaimana mereka dibentuk.
Anak-anak
selalu meniru dan mengikuti jejak orang dewasa. Mereka menelan begitu saja apa
yang diberikan oleh orang tua, serta mudah terpengaruh oleh pemikiran,
kata-kata, dari perbuatan orang tua. Karenanya tugas orang tua untuk
menciptakan atmosfir yang menyegarkan bagi anak-anak mereka.
Kesederhanaan,
kepatuhan, kerjasama, persatuan, keberanian, pengorbanan, kejujuran,
keterus-terangan, pengabdian, kepercayaan diri, kasih-sayang, hemat, rasa cukup,
cara hidup yang benar, semangat religius, dan nilai-nilai bajik lainnya,
ditanamkan dalam pikiran mereka selagi muda, secara bertahap. Benih yang
dikembangkan dengan cara demikian pada akhirnya akan tumbuh menjadi pohon
berbuah lebat.
Kewajiban
ketiga adalah memberikan pendidikan profesional kepada anak. Pendidikan yang
layak merupakan warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada
anak-anaknya. Tiada mestika yang lebih bemilai daripada itu. Pendidikan
merupakan berkah termulia dari orang tua kepada anak-anaknya. Pendidikan harus
ditanamkan pada anak-anak, sebaiknya
sejak muda, di dalam iklim religius. Kondisi demikian akan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan
mereka.
Kewajiban
orang tua yang keempat adalah mencarikan pasangan yang sesuai untuk anak.
Perkawinan adalah peristiwa keramat yang akan dibawa terus sepanjang hidup,
peraturan ini haruslah dari jenis
yang tidak mudah lepas lagi. Karenanya perkawinan, sebelum
dilangsungkan, harus diteropong dan berbagai sudut dan dalam segala aspek,
hingga memuaskan semua pihak yang terlibat.
Tradisi
Buddhis, kewajiban ada di atas hak. Hendaknyalah kedua pasangan tidak saling berkeras kepala,
sebaliknya harus selalu menggunakan pertimbangan yang bijak dan mengambil
keputusan dengan melibatkan kedua belah pihak. Jika tidak, akan timbul saling
mengutukdan saling menyerang. Akibat dari pertengkaran itu lebih sering
menimbulkan efek yang tidak baikkcpadaketurunanmcreka. Kewajiban yang terakhir adalah
mengalihkan kepada anak-anak, pada waktu yang tepat, harta kekayaan.
Sebaliknya
Lima cara seorang anak akan meperlakukan orang tuanya yaitu dahulu aku dirawat
oleh mereka, sekorang aku akan merawat mereka; aku akan memikul beban
kewajiban-kewajiban mereka; aku akan mempertahankan keturuan dan tradisi
keluarga; aku akan menjadikan diriku pantas menerima warisan; aku akan
melakukan perbuatan-perbuatan baik dan upacara agama setelah mereka meninggal
dunia.
Komunikasi
keluarga yang dibina dengan baik akan menumbuh kembangkan kepribadian anak dan
mental keluarga yang baik. Kekuatan keluarga pertama adalah kegiatan ritual
keluarga, hal ini dimaksudkan adalah kesanggupan keluarga untuk mengembangkan
ketetapan dan kelanjutan dengan menyediakan waktu untuk sepenuhnya melakukan
aktivitas keluarga yang paling sederhana, ‘tidak sekedar menyelesaikan apa
saja’ guna menikmati kebersamaan melakukan hal apapun; dengan bertindak atas
dasar rasa hormat dalam aktivitas kehidupan keluarga, yang bukan merupakan
tugas atau kewajiban, melainkan kesempatan untuk bersama.
Ritme
keluarga adalah hidup dalam keselarasan dan secara konstan memperhatikan irama
alamiah keluarga, denyut yang sesuai dengan proses-proses kehidupan alamiah,
dan memperkenankan keluarga mendikte langkah hidup alih-alih menanggapi tekanan
eksternal kehidupan sehari-hari.
Pertimbangan
keluarga berupa memahami bahwa kita menciptakan dunia kita sendiri dengan cara
yang kita pilih untuk berpikir mengenai dunia itu, dan bahwa kehidupan keluarga
yang rasional membutuhkan tanggung jawab pribadi untuk perasaan dan pikiran
kita, serta kepedulian bahwa kita bukanlah reaktor melainkan interaktor atas
kejadian dan orang-orang dalam kehidupan kita.
Kenangan
keluarga adalah tidak pernah melupakan apa yang diwariskan keluarga kita, dan
sanggup melihat masa depan keluarga sambil memberikan kepercayaan atas
senioritas anggota keluarga, respek atas sejarah/riwayat keluarga serta nilai,
dan belajar dari tahap-tahap perkembangan dan konflik yang telah dilalui
anggota-anggota keluarga demi kita.
Ketegaran
keluarga merupakan keberadaan sistem keluarga yang diterima bersama dengan
suara bula untuk menjernihkan tekanan hidup, kesanggupan untuk tabah dan tetap
tumbuh dalam ketidakpastian dan ketidaktenteraman yang berkepanjangan, serta
kesetiaan bahwa semangat kekeluargaan tak terkalahkan.
Resonansi
keluarga harus dibina, berupa kesanggupan mendengarkan, merasakan, dan berbagi
energi spiritual dengan anggota keluarga, memberikan energi kepada keluarga
untuk melangkah dengan bebas di antara perkembangan individu dan kesatuan
keluarga, dan memandang keluarga sebagai sistem aliran energi alih-alih
sekumpulan orang yang saling terpisah.
Keluarga
yang baik sanggup melakukan rekonsiliasi keluarga yaitu kesanggupan memaafkan,
tabah, dan mencintai kapanpun konflik terjadi, tidak pernah membiarkan setiap
problim yang melenyapkan pengertian, penerimaan, dan cinta keluarga membekas di
jiwa keluarga. Penghormatan
keluarga penting dimana berbagi sistem keyakinan berkenaan dengan tujuan hidup
dan komitmen pad kesatuan keluarga selamanya, yang ditunjukkan dengan sikap
anggota keluarga sehari-hari.
Kebangkitan
kembali keluarga yang merupakan
kesanggupan keluar dengan cepat dari gangguan kecil dan pertengkaran yang
sia-sia, dan mengidentifikasikan serta bekerja sama untuk memecahkan problema
inti dan universal yang mendasari semua konflik keluarga. Melakukan
reuni keluarga yang merupakan kesanggupan saling mengikat lebih kokoh dengan
menyadari kekuatan keluarga dan energi untuk kehidupan dan kemesraan, yang
berasal dari kepercayaan pada kekuatan spiritual keluarga. Guna
mengukur sejauh mana kekuatan yang ada pada keluarga anda, maka anda dapat
memberikan skor apa adanya pada skor keluarga anda.
H. Penutup
Tindak kekerasan adalah
tindakan kekerasan atau tekanan mental yang dilakukan oleh anggota keluarga: Serangan
terhadap badan, misalnya penyiksaan, pemukulan, mengikat kebebasan, gangguan
seksual, melanggar hak kebebasan seksual … dll. Tekanan mental, misalnya mengancam, menghina,
mengganggu, merusak barang, penyiksaan mental… dll.
Keluarga
merupakan sekelompok manusia yang terdiri dari suami, istri, anak-anak (bila
ada) yang terikat atau didahului dengan perkawinan. Perkewinan merupakan
persekutuan antara dua individu, yang diperkaya dan ditinggikan jika perkawinan
itu membolehkan kepribadian yang bersangkutan tumbuh. Rumah adalah sekolah
pertama, dan orang tua sebagai guru yang pertama bagi anak-anak. Orang tua
adalah guru di rumah; guru adalah orang tua di sekolah. Baik orang tua man pun
guru bertanggung-jawab atas masa depan yang baik bagi anak-anak, yang akan
menjadi sebagaimana mereka dibentuk. Membangun
keluarga yang harmonis diutuhkan keselarasan dari semua komunitas anggota
keluarga berdasarkan norma keluarga dan norma dharma sebagai soko guru
keluarga.
Referensi:
Anderson, 1997, 22 Kaidah Menuju
Hidup Sejahtera, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Balson M., 1993, Menjadi Orang
Tua Yang Lebih Baik, Jakarta: Binarupa Aksara.
Cornelis Wowor, 1991, Pandangan
Sosial Agama Buddha, Jakarta: Aryasuryacandra.
Nanadaena Ratnapala, Buddhist
Sociology, Delhi-India: Sri Satguru Publications.
Nanasampanno, tanpa tahun, Bahagia
dalam Keluarga, Klaten: Wisma Sambodhi.
Pearsall P., 1996, Rahasia
Kekuatan Keluarga, Jakarta: Pustaka Delapratasa.
Sri Dhammananda, 1994, Hudup
Sukses dan Bahagia Tanpa Takut dan Cemas, Jakarta: Yayasan Penerbit
Karaniya.
----, 1990, Perkawinan Yang
Bahagia, Jakarta: Yayasan Penerbit Karaniya.
Steven L.A., 1999, Mengatasi Masalah
Perkawinan, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
[1] Disampaikan pada acara Rapat Kerja Daerah
&Bina Widya Wanita Buddhis Indonesia Propinsi Jawa Tengah Tanggal 25-27
Agustus 2006 di Vihara Avalokitesvara Gunung Kalong Ungaran.
Komentar